
Photo
JawaPos.com- Sepanjang Oktober ini saja, Sidoarjo sudah lima kali kena terjang puting beliung. Yang paling parah terjadi Minggu (23/10) lalu. Ratusan rumah di tiga kecamatan terdampak. Terdahsyat di Kecamatan Buduran.
Kasi Data BMKG Juanda Teguh Tri Susanto menyatakan bahwa Sidoarjo dan juga beberapa wilayah di Jawa Timur masih berpotensi tinggi mengalami cuaca ekstrem. Awan kumulonimbus semakin besar karena intensnya penguapan. Itu mengakibatkan cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, dan puting beliung.
Teguh menambahkan, awan kumulonimbus akan membuat angin bisa mencapai kecepatan lebih dari 30 km/jam. ’’Kejadian angin puting beliung yang terjadi di Kab Sidoarjo, Buduran, dan Gedangan dipicu pertumbuhan awan kumulonimbus lebih dari satu cell atau biasa disebut multicell,’’ ujarnya.
Karena itu, dia mengimbau warga agar waspada jika menjumpai kumpulan awan yang berubah dari warna putih yang berlapis-lapis menjadi abu-abu atau hitam. Dalam waktu dekat, hujan dan angin kencang akan muncul. Angin puting beliung bisa juga terjadi saat awan masih berwarna putih dan hawa terasa panas dan gerah. ’’Biasanya itu saat pagi atau siang, suhu bisa 29–30 derajat,’’ ujarnya.
’’Memang, ini masih masa pancaroba sehingga ada potensi tinggi terjadi angin kencang dan juga puting beliung,’’ ujar Kepala BPBD Sidoarjo Dwijo Prawito saat ditemui di posko bencana Dusun Mlaten, Sidokepung, Buduran, kemarin (24/10).
Untuk peristiwa angin puting beliung yang mengakibatkan ratusan rumah rusak pada Minggu (23/10) sore, Dwijo menyatakan bahwa penyebab utamanya adalah banyak bangunan yang kurang diperiksa secara berkala.
Selain bangunan rumah permanen, rumah semipermanen seperti warung ataupun kanopi perlu diperhatikan lagi pemasangannya. ’’Karena memang sebagian besar yang membuat rusak rumah adalah bangunan semipermanen yang terbawa angin dan menimpa rumah warga,’’ ungkapnya.
Di sisi lain, permukiman bisa rusak karena terkena angin ketika berada di dekat lahan terbuka. Menurut dia, jika permukiman berada di dekat lahan terbuka, sangat mungkin angin akan berembus kencang ke permukiman yang ada. ’’Mulai Kahuripan kan banyak ruang terbuka, terus di Mlaten ini sisi timur ada lahan sawah,’’ katanya.
Pakar kebencanaan ITS Amien Widodo menyatakan bahwa warga bisa mengantisipasi kerusakan dengan rutin memeriksa kondisi pohon, bagian-bagian rumah, dan juga benda besar di sekeliling perkampungan. ’’Mungkin ada banner, baliho, itu harus diperhatikan pemasangannya,’’ ujarnya.
Kalaupun angin memang benar-benar kencang, setidaknya pemeriksaan dan tindakan tersebut bisa meminimalkan tingkat dampak dari embusan angin. ’’Pemeriksaan tanah juga perlu, apakah tanahnya gembur atau lunak sehingga mudah roboh, ataukah tanahnya padat,’’ kata Amien.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
