alexametrics

Kepincut Bunga Bank Lebih Besar, Rp 3 Miliar Justru Hilang

24 Januari 2021, 13:29:33 WIB

Sundari mendepositokan uang Rp 3 miliar untuk hari tuanya. Dia tergiur rayuan pegawai bank yang menawarkan investasi. Setelah semua depositonya dipindah, investasi itu macet. Bunga tidak didapat. Modal pun lenyap.

SUNDARI adalah nasabah deposan prioritas di sebuah bank pemerintah kantor cabang Surabaya. Dia mendepositokan uangnya sebesar Rp 3 miliar. Simpanan itu rencananya digunakan untuk bekal hari tua. Tidak ada niat untuk mencairkan deposito itu dalam waktu dekat. Sundari sudah menghitung akan mendapat bunga yang cukup.

Namun, seorang pegawai bank merayunya. Karyawan tersebut menyarankannya untuk berinvestasi di PT Asuransi Jiwasraya daripada menyimpan uang di deposito.

Sundari sempat ragu, tetapi karyawan tersebut terus merayunya. Karyawan yang merupakan kepanjangan tangan pihak bank tersebut meyakinkan bahwa uang Sundari tidak akan hilang jika diinvestasikan ke asuransi. Pertimbangan Sundari menyimpan di deposito supaya uangnya aman karena bank milik negara. ”Tapi, karyawan ini juga meyakinkan kalau Jiwasraya juga perusahaan negara. Selagi negara belum bangkrut, uang tidak akan hilang,” kata pengacara Sundari, Tjandra Sridjaja Pradjonggo.

Selain itu, karyawan bank tersebut meyakinkan jika menginvestasikan uang ke asuransi, Sundari akan mendapatkan bunga yang lebih tinggi. Bunganya 6,5 hingga 7 persen setiap tahun. ”Katanya, dengan pindah ke investasi Jiwasraya, itu akan lebih menguntungkan,” ujar pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Lawyer Club (LBH ILC) tersebut.

Sundari akhirnya luluh. Dia memindahkan depositonya ke asuransi. Dia membuka empat akun investasi asuransi. Pertama pada 23 November 2017 senilai Rp 500 juta, kedua 26 April 2018 sebesar Rp 1 miliar, ketiga pada 11 Mei 2018 senilai Rp 500 juta, dan pada 14 Mei 2018 sebesar Rp 1 miliar. ”Semua uang di deposito langsung dialihkan ke Jiwasraya,” katanya.

Sundari dibantu karyawan bank untuk memindahkan uangnya dari deposito ke rekening. Setelah itu, uang dikirim dari rekening ke asuransi. ”Semua prosesnya dipandu sama karyawan bank, dia yang neken,” ucapnya.

Perempuan 49 tahun itu sama sekali tidak curiga. Namun, setelah jatuh tempo, pihak asuransi tidak membayarkan bunga yang dijanjikan. Sundari mengeceknya, ternyata asuransi tersebut memang sudah lama bermasalah. ”Ketahuannya setelah tidak bisa bayar bunga. Dan sampai hari ini, tidak pernah dibayar,” katanya.

Sundari sempat mempertanyakan kasus tersebut ke pihak bank. Namun, bank tersebut menyatakan bahwa kasus itu merupakan urusan nasabah dengan pihak asuransi. Bukan dengan pihak bank.

Tjandra menyatakan bahwa Asuransi Jiwasraya sudah lama terdengar bermasalah. Berdasar catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), perusahaan itu sudah bermasalah sejak 2006. Pada 2017, sudah diperingatkan bahwa perusahaan tersebut berpotensi gagal bayar uang yang diinvestasikan nasabahnya.

Baca Juga: Bangunannya Kena Gusur Tol Desari, Tommy Soeharto Gugat Rp 56 Miliar

”Namun, bank itu masih menjual produk Jiwasraya dan menawarkan kepada nasabahnya,” katanya. Semestinya, ketika Jiwasraya berpotensi bermasalah, bank menghentikan kerja samanya dengan perusahaan tersebut.

Tjandra menyatakan bahwa pihak bank telah berbuat melawan hukum karena menjanjikan sesuatu dan serangkaian kebohongan agar nasabahnya mau berinvestasi. Kini Sundari menggugat bank itu dan Jiwasraya di Pengadilan Negeri Surabaya. Dia menuntut uang yang sudah diinvestasikan beserta bunganya agar diserahkan kembali kepadanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gas/c12/eko




Close Ads