Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Agustus 2020 | 03.02 WIB

Ujung Tombak Perlawanan Terhadap Covid-19, Bukan Cuma Tenaga Kesehatan

Salah satu kegiatan pasien di RSDL Indrapura Surabaya. Pasien banyak diberikan treatment untuk lebih bahagia supaya imun meningkat dan lebih cepat sembuh. Tim Relawan Pendamping RSDL Indrapura - Image

Salah satu kegiatan pasien di RSDL Indrapura Surabaya. Pasien banyak diberikan treatment untuk lebih bahagia supaya imun meningkat dan lebih cepat sembuh. Tim Relawan Pendamping RSDL Indrapura

JawaPos.com–Ada banyak pihak yang menjadi ujung tombak perlawanan terhadap Covid-19. Bukan hanya tenaga kesehatan, ada pihak lain yang mendukung penurunan angka pasien Covid-19. Seperti tenaga kebersihan di Rumah Sakit Darurat Lapangan (RSDL) Indrapura.

Herlambang, salah satu tenaga kebersihan bercerita bahwa menjadi bagian dari RSDL Indrapura memberinya banyak pengalaman. Salah satunya merasakan langsung sesuatu yang selalu ditakuti dan dihindari masyarakat.
”Kata orang kan kalo penyakit covid itu menakutkan dan harus dikucilkan. Padahal ya nggak gitu,” ujar Herlambang.

Dia menyayangkan anggapan masyarakat yang meyakini bahwa penderita Covid-19 tidak boleh didekati. ”Memang benar harus jaga jarak. Tapi bukan berarti nggak bisa diajak bicara,” tutur Herlambang.


Dia mengaku sering mendapat curhat dari pasien. ”Salah satunya yang curhat diceraikan istrinya karena covid. Ada juga yang kangen anak. Macam-macam ceritanya. Jadi nggak boleh dihindari atau dikucilkan. Harus didengarkan biar cepat sembuh,” ungkap Herlambang.

Cerita berbeda disampaikan Uus. Perempuan asli Madura itu mengaku sempat pingsan ketika mengenakan APD. ”Panas dan bikin pusing. Saya juga berkeringat banget,” ujar Uus.

Mereka bekerja 4 jam dalam 1 sif. Area RSDL Indrapura yang cukup luas menjadi tantangan. Dengan 5 orang bekerja dalam 1 sif, mereka harus membersihkan seluruh area. Mulai dari kamar pasien, kafe, hingga ruang olahraga.

Pengalaman menggunakan APD untuk pertama kalinya juga menjadi tantangan. Pengalaman berbeda didapati Munir, Devan, dan Devon. Ketiganya merasa walaupun bekerja dengan risiko yang tinggi terpapar Covid-19, namun mereka tidak merasa takut. ”RSDL memperhatikan kondisi kami. Misalnya, tiap dua Minggu sekali tes rapid. Vitamin juga dikonsumsi tiap hari,” tutur Munir yang mengaku sampai mengalami penambahan berat badan.

Sementara itu, Devan dan Devon merasakan langsung bahwa masyarakat terlalu menyepelekan sekaligus berlebihan memandang Covid-19. ”Masker jarang dipakai, masih nongkrong dan nggak jaga jarak. Mereka belum merasakan sakitnya,” ucap Devan.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=ndIMxVOwefg

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore