Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Mei 2021 | 03.51 WIB

Dosen UINSA Bilang, Lebaran Ketupat Upaya Pribumisasi Sunan Kalijaga

Pedagang kulit ketupat musiman menyelesaikan pembuatan kulit ketupat yang dijual di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (12/5/2021). Permintaan kulit ketupat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H yang dijual sekitar Rp14.000 per 10 buahnya mengalami peningkat - Image

Pedagang kulit ketupat musiman menyelesaikan pembuatan kulit ketupat yang dijual di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (12/5/2021). Permintaan kulit ketupat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H yang dijual sekitar Rp14.000 per 10 buahnya mengalami peningkat

JawaPos.com–Lebaran merupakan momen yang dinanti masyarakat muslim. Sebab, biasanya sanak keluarga akan berkumpul dan menjadi ajang silaturahi. Hidangan khas saat Idul Fitri adalah bersantap memakan ketupat. Bahkan di beberapa tempat dikenal dengan tradisi Lebaran ketupat yang dirayakan satu minggu setelah 1 Syawal.

”Ketupat itu sebagai bentuk pernyataan bahwa orang yang telah menjalani puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Juga untuk ungkapan perayaan Lebaran,” ungkap Muhammad Khodafi, salah satu dosen Sejarah Peradaban Islam Universita Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Bentuk ketupat seperti bangun belah ketupat tiga dimensi. Terbuat dari anyaman janur (daun kelapa yang masih muda).  Ketupat diisi beras kemudian dimasak. Biasanya disajikan dengan kuah opor.

”Ketupat ini terkenal di kalangan masyarakat Jawa, juga di daerah lain nusantara, hingga Malaysia, Singapura, dan Filipina,” sebut Khodafi.

Dia menjelaskan, dari beberapa cerita, ketupat pada awalnya diperkenalkan Sunan Kalijaga. Sebagai salah satu metode penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Demi menarik hati masyarakat Jawa pada waktu itu, Raden Said atau Sunan Kalijaga mengadakan beberapa perayaan yang bersentuhan dengan masyarakat Jawa, salah satunya Lebaran ketupat.

”Orang Jawa bilangnya KupatanNah, Sunan Kalijaga memberi makna tersirat. Konon secara bahasa, maknanya itu kulo lepat (kesalahan saya). Makanya ada pemeo dalam masyarakat Jawa kupat santen artinya kulo lepat nyuwun ngapunten (kesalahan saya mohon dimaafkan),” tutur Khodafi, yang juga menjabat sebagai kepala Jurusan SPI tersebut.

Tak hanya sebagai ungkapan permintaan maaf, Lebaran ketupat juga memiliki banyak makna, Khodafi menyebut ada unsur 4 kemanusiaan di dalamnya. Yakni selesai menjalani puasa, lalu sebagai sedekah, kemudian mengakui kesalahan dan dengan tulus meminta maaf. Yang terakhir penyucian diri agar terlahir kembali.

”Lebaran itu bukan hanya lahir sosial tapi juga spiritual,” terang Khodafi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore