
Warga memperbaiki perahu yang rusak pada Sabtu (14/11). Rafika Yahya/JawaPos.com
JawaPos.com–Banjir rob yang melanda kampung pesisir di wilayah Surabaya Timur pada Rabu (11/11) malam memberikan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat nelayan. Tiga hari setelah banjir rob terjadi, nelayan terpaksa libur.
Hal itu diungkapkan Nasrullah, ketua RW 2 yang tinggal di wilayah pesisir. Banyak nelayan yang memilih untuk tidak melaut terlebih dahulu. ”Banyak perahu yang rusak. Harus diperbaiki dulu sebelum melaut. Waktu dan biaya juga tidak sedikit,” tutur Nasrullah pada Sabtu (14/11).
Dia menyebut standar waktu perbaikan perahu bisa mencapai 2 minggu. Sementara itu, nominal perbaikan mencapai 2 juta rupiah.
”Perbaikan perahu itu bisa sampai 2 minggu. Satu perahu itu harganya Rp 26 juta. Yang lumayan mahal adalah alat pancing atau jaringnya. Satu jaring itu Rp 2 juta, sedangkan satu perahu bisa bawa sampai 30 jaring,” terang Nasrullah.
Dia mengaku, banjir rob seperti yang terjadi pada minggu ini, belum pernah terjadi sebelumnya. Padahal, dia tinggal di wilayah pesisir sejak kecil.
”Tidak pernah (banjir rob). Beruntung ada tanggul di sepanjang kampung. Sehingga air tertahan menghantam tanggul, bukan rumah kami,” ujar Nasrullah.
Beruntung, beberapa instansi dari pemkot datang dan mendirikan posko di dekat perkampungan. Tidak hanya itu, bantuan berupa sembako juga telah disalurkan dari Pemkot Surabaya dan Polrestabes Tanjung Perak. Namun, Nasrullah berharap tidak hanya perbaikan perahu yang ditanggung pemkot, alat tangkapnya juga.
”Sekarang nelayan yang perahunya masih utuh harus menjaga perahunya. Jaga-jaga kalau datang lagi gelombangnya. Soalnya pada waktu kejadian, airnya masuk ke perahu,” tutur Nasrullah.
Kapolres Tanjung Perak AKBP Ganis Setyaningrum mengatakan, telah memberikan bantuan berupa sembako pada nelayan terdampak. Bantuan dari polres itu fokus pada nelayan terdampak. Sebab, tidak semua nelayan perahunya rusak dan gelombang rob tersebut bersifat insidentil.
”Jadi ini kan insidentil, kami menghimpun bantuan dari anggota Polres Tanjung Perak sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Meskipun tidak seberapa bantuan yang terhimpun, tapi kami tetap salurkan,” kata Ganis.
Ganis menambahkan, pihaknya juga memasang tanda visual yang menunjukkan tinggi serta debit air. Tanda visual tersebut dibuat menggunakan warna hijau, kuning, dan merah untuk mendeteksi tinggi air. ”Kami juga menurunkan personel untuk mengamankan dan membantu warga yang membutuhkan. Total ada 10 orang, ditambah dengan jajaran BPB Linmas yang berjaga,” terang Ganis.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=sC41akwM5dY

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
