alexametrics

Dirut-Komisaris Rebutan Saham Perusahaan Perdagangan Senjata

14 Januari 2021, 12:00:30 WIB

JawaPos.com – Ariel Topan Tubagus menjadi pemegang saham terbesar PT Hosion Sejati (HS) setelah mewarisi 8.800 saham ibunya, Susiana, yang meninggal pada 2015. Saham Ariel bertambah karena mengaku telah membeli saham milik Kang Hoke Wijaya hingga 6.600 lembar. Namun, Hoke tidak merasa menjualnya.

Sengketa berebut saham itu disidangkan di Pengadilan Jakarta Pusat dan Pengadilan Negeri Surabaya. Kemarin Ariel menjadi terdakwa kasus pemalsuan akta otentik peralihan kepemilikan saham yang dilaporkan Hoke. Sementara itu, Hoke sedang ditahan di Rutan Salemba dalam kasus penggelapan uang perusahaan yang dilaporkan Ariel.

Versi Ariel, dirinya mendapat saham dari Hoke yang menjabat komisaris berdasar akta penjualan saham dari Hoke ke Ariel. Peralihan saham itu juga berdasar hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada tahun yang sama. Namun, Hoke tidak pernah merasa menjual saham kepada siapa pun.

’’Saham saya sampai saat ini 60 persen. Saya tidak pernah menjualnya. Tapi, menurut akta itu, saham saya hanya 30 persen. Yang 30 persen beralih ke Ariel,’’ ujar Hoke saat bersaksi secara telekonferensi dari Rutan Salemba, Jakarta Pusat, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (13/1).

Hoke merasa tidak pernah datang dalam RUPSLB pada 2015. Dia juga tidak pernah menandatangani notulen rapat tersebut. Tiga tanda tangannya yang tercatat dalam notulen dipastikannya palsu. ’’Saya tidak pernah ikut rapat. Saya tidak tanda tangani notulen,’’ katanya.

Dengan nilai saham yang besar, Ariel menjabat direktur utama perusahaan yang beralamat di Jalan Embong Wungu, Surabaya, tersebut. Namun, Hoke meragukan legalitas Ariel sebagai Dirut menggantikan ibunya. ’’Dia menjabat tanpa dasar penunjukan dan lainnya,’’ ucapnya.

Setelah menguasai sebagian besar saham perusahaan perdagangan peralatan senjata dan amunisi tersebut, Ariel menggunakan rekening perusahaan untuk menerima pesanan atau pengadaan barang dari pekerjaan PT HS. Dia kemudian menarik dan memindahkan uang dari rekening perusahaan ke rekening pribadinya. Hoke dirugikan Rp 226,5 miliar.

Hingga kini, dia merasa belum pernah menerima uang sebesar itu dari Ariel. Dia kemudian memidanakan anak mendiang Susiana tersebut karena dianggap sudah memalsukan akta otentik. Selain itu, dalam persidangan, dia mengaku kerugiannya lebih besar daripada yang didakwakan jaksa penuntut umum. ’’Saat ini kerugian saya kurang lebih Rp 1 triliun. Ariel memanfaatkan dokumen yang dipalsukan tersebut untuk kepentingannya,’’ katanya.

Baca Juga: Hanya Manjur 50,4 Persen, Singapura Masih Tunda Pakai Vaksin Sinovac

Di sisi lain, Ariel juga memidanakan Hoke karena dianggap telah menggelapkan uang perusahaan. Nilainya Rp 31,5 miliar. Majelis hakim PN Jakarta Pusat menghukum Hoke pidana sembilan tahun penjara. ’’Saya dilaporkan dia yang mengaku sebagai direktur melakukan penggelapan,’’ ujar Hoke.

Pengacara terdakwa Ariel, Fahmi Hafid Bachmid, menyatakan bahwa Hoke tidak tahu siapa yang memalsukan akta jual beli saham dan notulen RUPSLB tersebut. ’’Dia justru mengakui dia yang menggunakan untuk kredit dan cair uangnya digunakan,’’ kata Fahmi.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gas/c19/eko


Close Ads