Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 April 2020 | 20.32 WIB

Tiga Sungai Gresik Meluap, Ribuan Rumah di Selatan dan Utara Tergenang

BERBASAH-BASAH: AKBP Kusworo Wibowo memberikan bantuan kepada anak-anak korban banjir di Desa Deliksumber, Benjeng, kemarin sore. (Galih Waicaksono/Jawa Pos) - Image

BERBASAH-BASAH: AKBP Kusworo Wibowo memberikan bantuan kepada anak-anak korban banjir di Desa Deliksumber, Benjeng, kemarin sore. (Galih Waicaksono/Jawa Pos)

JawaPos.com – Guyuran hujan deras dalam beberapa hari terakhir membuat tiga sungai besar yang melintasi wilayah Gresik meluap. Yakni, Kali Lamong, kali afvoer, dan Bengawan Solo. Dampak luapan tiga sungai itu, kawasan terdampak banjir semakin luas.

Di wilayah selatan, tanggul di Desa Tambakberas, Cerme, kemarin siang jebol. Tak ayal, air semakin menggenangi permukiman warga sekitar. Sedikitnya 60 rumah terendam banjir dengan ketinggian air sekitar 50 sentimeter. Termasuk, Jalan Raya Tambakberas. Akses sepanjang 500 meter pun ikut terendam.

”Satu titik tanggul jebol di dekat anak Kali Lamong, saat ini masih dalam penanganan. Kondisi jalan masih bisa dilalui kendaraan, walaupun beberapa kendaraan mogok karena kemasukan air,” kata Camat Cerme Suyono.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik, luapan Kali Lamong sudah menggenangi banyak desa di wilayah selatan. Perinciannya, 17 desa di Kecamatan Benjeng dan Cerme. Ketinggian air 30–80 sentimeter. Dua ruas jalan di Kecamatan Menganti, yaitu Jalan Raya Kepatihan dan Bringkang, juga tergenang dengan ketinggian air 20 sentimeter.

Salah satu desa terdampak banjir yang lumayan parah adalah Dungus, Cerme. Setidaknya empat kali Kali Lamong meluap sejak awal 2020. ”Mau mengungsi pun bingung ke mana karena nggak ada tempat lain,” keluh Seninam, warga Dungus.

Masih di wilayah Gresik Selatan, hingga kemarin sejumlah desa di Kecamatan Driyorejo juga masih terdampak luapan kali afvoer. Salah satunya Desa Cangkir. Sebanyak 350 rumah warga tergenang. Sehari sebelumnya, banjir juga melanda Desa Sumput, Tanjungan, dan Driyorejo. Bahkan, banjir kali ini terbilang paling parah dalam sepuluh tahun terakhir.

”Kami mengharapkan, segera dilakukan penyudetan kali afvoer ke Kalimas, Surabaya, biar air bisa cepat surut ketika terjadi banjir. Selain itu, lakukan normalisasi secepatnya biar warga tidak waswas terus setiap kali terjadi hujan deras,” tutur Kepala Desa Cangkir Karnomo kemarin.

Sementara itu, banjir akibat luapan Bengawan Solo juga dirasakan warga Gresik Utara. Sejak kemarin dini hari (11/4), air meluber dan menggenangi delapan desa, khususnya yang berada di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. Lima desa terdapat di Kecamatan Dukun dengan ketinggian genangan rata-rata 30 sentimeter. Yakni, Desa Karangcangkring, Bulangan, Bangeran, Tiremenggal, dan Kalirejo. Tiga desa lain terdapat di Kecamatan Bungah. Masing-masing Sukorejo, Bungah, dan Mojopuro Wetan.

Kepala BPBD Gresik Tarso Sugito menjelaskan, pihaknya telah menerjunkan tim untuk memonitor perkembangan banjir akibat luapan sungai tersebut. Baik luapan Kali Lamong maupun Bengawan Solo. Termasuk, kondisi pasang surut air laut. ”Statusnya siaga kuning. Diharapkan tetap waspada karena kondisi tersebut bisa berubah sewaktu-waktu. Apalagi, Gresik merupakan muara dari beberapa sungai besar di Jawa Timur,” terang dia.

Menurut Tarso, banjir akibat luapan Bengawan Solo di wilayah utara rata-rata menggenangi jalan desa dan area persawahan atau tambak. Hanya tiga rumah yang tergenang di Desa Mojopuro Wetan. ”Seluruh luapan itu disebabkan intensitas hujan yang sangat tinggi dan kiriman air dari wilayah lain,” terang dia.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore