Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Januari 2023 | 22.48 WIB

Dishub Surabaya Siapkan 500 Titik Pemberhentian Feeder

DIGANTI: Angkot menurunkan penumpang di Jalan Mayangkara kemarin (11/1). Dinas Perhubungan Kota Surabaya mengoperasikan feeder dalam waktu dekat. (Frizal/Jawa Pos) - Image

DIGANTI: Angkot menurunkan penumpang di Jalan Mayangkara kemarin (11/1). Dinas Perhubungan Kota Surabaya mengoperasikan feeder dalam waktu dekat. (Frizal/Jawa Pos)

JawaPos.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya memastikan 57 unit feeder telah tiba di Surabaya. Rencananya, operasional dimulai pada Februari mendatang. Ada 500 titik pemberhentian yang kini sedang dipersiapkan.

Persiapan untuk mengubah angkutan kota lawas menjadi armada yang lebih modern semakin dekat. Sebanyak 57 minivan yang bakal menjadi feeder sudah tiba di Surabaya. Kini semuanya sedang disiapkan, yakni melengkapi mobil tersebut dengan alat pembayaran hingga terintegrasi dengan aplikasi.

”Sudah datang sejak pekan lalu. Ini kami masih konfigurasikan dengan GPS maupun alat pemb. Sebab, nanti posisi kendaraan bisa dipantau melalui aplikasi GoBis,’’ papar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya Tundjung Iswandaru.

Nanti semua mobil tersebut disebar untuk melayani lima rute yang sudah ditetapkan. Rute itu menggantikan operasional lin yang banyak ditinggalkan masyarakat. Aktivasi rute layanan tersebut diharapkan bisa membangkitkan kemauan warga Surabaya untuk memakai transportasi publik lagi.

Feeder adalah moda transportasi pengumpan. Artinya, dari rute yang ada di area permukiman, penumpang akan diumpan atau dihubungkan dengan angkutan yang beroperasi di jalur utama kota. Dalam hal ini, yang berperan sebagai penerima umpan penumpang itu adalah Suroboyo Bus.

’’Memang persiapannya cukup panjang. Dalam satu rute itu ada 80–100 halte. Kalau lima rute, halte yang disisipkan sebanyak 500 titik,’’ terangnya.

Tundjung menyebut operasional feeder akan sama seperti Suroboyo Bus. Hanya, feeder memiliki jarak halte yang lebih pendek. Sebab, lintasan mereka di perkampungan.

Soal kapan feeder dioperasikan, dia menargetkan Februari semua persiapan sudah beres. Tinggal menunggu SK dari wali kota terbit. Dia memastikan tidak akan buru-buru untuk launching feeder sebelum semua persiapan beres. Tujuannya, masyarakat juga tidak kecewa.

’’Karena itu, lebih baik kami persiapkan dengan matang. Misalnya, untuk memasukkan data 500 halte ke aplikasi GoBis, kami perhatikan betul,’’ ujarnya.

Sementara itu, Kabid Angkutan Dishub Sunoto mengatakan bahwa rute angkot yang tergantikan oleh feeder pun akan mendapat kompensasi. Namun, bukan berupa uang. Sopir lama diberi kesempatan untuk menjadi sopir feeder.

Dishub bakal melakukan seleksi. Tidak asal comot. Sebab, konsep pelayanannya adalah buy the service. Artinya, mengutamakan kualitas pelayanan, bukan mengejar keuntungan atau target.

”Saat ini proses rekrutmen itu sedang berjalan. Perlu training dan serangkaian tes juga. Karena konsep feeder dan lin konvensional ada perbedaan,’’ ujarnya.

TRANSFORMASI DARI ANGKOT KE FEEDER

- Menggunakan mobil jenis minivan dengan kapasitas 12–14 tempat duduk.

- Pembayaran hanya bisa secara cashless berupa e-money atau QRIS.

- Terhubung dengan aplikasi GoBis sehingga bisa dipantau lokasinya.

- Dilengkapi AC dan fitur keamanan seperti pemecah kaca darurat hingga APAR.

- Pengadaan sempat molor karena terkendala syarat tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

- Pemkot mengeluarkan anggaran hingga Rp 34 miliar untuk pengadaan 57 unit feeder.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore