Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Januari 2020 | 02.07 WIB

Sempat Sabetkan Parang ke Polisi, Bandar Narkoba Mati

BIDIK BANDAR GEDE: Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho (dua dari kiri) menunjukkan barang bukti sabu-sabu dan ekstasi yang disita dari Rizal Wahyu Putra. (Guslan Gumilang/Jawa Pos) - Image

BIDIK BANDAR GEDE: Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho (dua dari kiri) menunjukkan barang bukti sabu-sabu dan ekstasi yang disita dari Rizal Wahyu Putra. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

JawaPos.com - Polisi terus mengobarkan perang terhadap bandar narkoba di Surabaya. Yang terbaru, kemarin dini hari (2/1), aparat Satnarkoba Polrestabes Surabaya menembak mati lagi seorang bandar narkoba.

Dari perkara itu, polisi menyita dua jenis narkoba yang jumlahnya tidak sedikit. Yakni, 1,5 kilogram sabu-sabu (SS) dan 950 butir pil ekstasi. ’’Masih satu jaringan dengan pengedar pil happy five yang ditangkap beberapa waktu lalu,’’ ujar Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho.

Sekadar informasi, pengedar pil happy five yang diringkus petugas sebelumnya adalah Firsandy Maulidini. Dari pemuda 23 tahun itu, diamankan 1.500 ribu butir pil happy five sebagai barang bukti. Di rumahnya juga ditemukan seperangkat alat isap SS. Antara lain, bong dan pipet kaca bekas pakai.

Nah, polisi kemudian mencokok pengedar SS yang menjadi pemasoknya. Yaitu, Budi Tri Cahyono. Warga Wiyung tersebut mempunyai dua anak buah yang ikut tertangkap. Yakni, Yoga Soekarno dan M. Kholik.

Sandi menjelaskan, dari kelompok itu, pihaknya mengendus adanya bandar yang beroperasi di metropolis. Yakni, Rizal Wahyu Putra. Pemuda kelahiran 1991 tersebut diketahui tinggal di Jalan Petemon Kuburan, Sawahan. ’’Tadi sekitar pukul 03.00 yang bersangkutan kami tangkap tidak jauh dari kediamannya,’’ jelasnya.

Rizal, tutur dia, ternyata bukan hanya bandar narkoba jenis SS. Dari tangannya, juga ditemukan pil ekstasi berbentuk koala. Jumlahnya 50 butir. ’’Sabu-sabunya sebanyak 1 ons,’’ ungkap perwira dengan tiga melati di pundak itu. ’’Langsung dikembangkan lagi,’’ sambungnya.

Rizal didesak untuk menunjukkan barang bukti lainnya. Dia kemudian mengaku mempunyai tempat penyimpanan di Jabon, Sidoarjo. ’’Di sana memang ada rumah yang difungsikan sebagai gudang oleh tersangka,’’ kata Sandi.

Di lokasi tersebut, barang bukti tambahan ditemukan. Yaitu, 14 ons SS dan 900 butir pil ekstasi. Namun, asal-usul barang terlarang itu masih gelap.

Sandi mengatakan, tersangka bertindak nekat. Rizal mendadak mengambil sebilah parang ketika petugas yang mengelernya lengah. Dia kemudian menyabetkan senjata tajam (sajam) itu secara membabi buta. Dampaknya, dua anggota terluka. Di sela-sela pergumulan itu, anggota lainnya memberikan tembakan peringatan. Tetapi, pelaku tetap kalap. Merasa tindakan pelaku membahayakan, anggota melakukan tindakan tegas. Rizal ditembak.

Rizal pun terkapar. Dadanya tertembus timah panas. Dia kemudian dievakuasi ke RS Pusdik Sabhara Porong. Namun, nyawanya melayang dalam perjalanan. ’’Luka yang dialami anggota tidak parah. Tapi, jadi catatan bagi kami agar lebih waspada,’’ ujar peraih Adhi Makayasa Akpol 1995 itu.

Mantan Kapolrestabes Medan tersebut mengungkapkan, tembak mati kepada pelaku tindak pidana sebenarnya bukan pilihan prioritas. Dia berharap semua penangkapan berlangsung lancar tanpa disertai insiden. ’’Biar pelakunya bisa diproses hukum. Di sisi lain, jaringannya bisa terus kami kembangkan,’’ katanya. Meski begitu, pihaknya juga tidak akan segan memberikan tindakan tegas kepada pelaku yang tidak menunjukkan iktikad baik. Terlebih, membahayakan nyawa. Sandi menegaskan bahwa penjahat seperti itu perlu dikirim ke akhirat.

Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian mengungkapkan, jajarannya masih mendalami sindikat tersangka. Meskipun petunjuk yang didapat saat ini tidak banyak, dia optimistis bisa menemukan kelompoknya. ’’Beri kami waktu,’’ jelasnya.

Lulusan Akpol 2002 tersebut mengaku sudah mengerahkan empat tim untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Dia berharap menemukan titik terang dalam waktu dekat. ’’Komitmen kami masih sama dengan tahun lalu. Bongkar jaringan narkoba sampai ke akar-akarnya,’’ tutur polisi dengan dua melati di pundak itu.

Disinggung soal luka yang didapat dua anggotanya, dia menyebutkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Memo menjelaskan, mereka sudah mendapat perawatan medis. ’’Luka sayatan di lengan kiri. Dapat empat jahitan. Yang satu lagi bengkak di tangan kiri,’’ ungkapnya.

Berdasar catatan Jawa Pos, tindakan tegas berupa tembak mati terhadap gembong narkoba pernah beberapa kali dilakukan polisi tahun lalu (lihat grafis). Aparat Satresnarkoba Polrestabes Surabaya kali terakhir melakukannya pada awal Desember 2019. Dalam kesempatan itu, dua tersangka sekaligus yang diberi tindakan. Yakni, Tonny Ganda Wijaya, 34, warga Sidoarjo, dan Deny Saipul Anwar, 26, warga Malang. Mereka ditembak di Sukomanunggal karena berusaha melarikan diri saat pengembangan perkara. Dari perkara itu, petugas mengamankan 2 kilogram SS yang diketahui berasal dari Malaysia.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore