Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 Maret 2026, 06.29 WIB

Tak Seramai Biasanya, TPU Ngagel Rejo Surabaya Sepi Peziarah Saat Hari Raya Idul Fitri

Suasana di TPU Ngagel Rejo Surabaya pada H-1 Lebaran, Jumat (20/3), sepi peziarah. (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Suasana di TPU Ngagel Rejo Surabaya pada H-1 Lebaran, Jumat (20/3), sepi peziarah. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Sore itu, langit mendung menggantung di atas TPU Ngagel Rejo, Surabaya, Jumat (20/3). Di antara deretan nisan, hanya beberapa peziarah yang datang, berjalan pelan menyusuri makam keluarga mereka.

Suasana pemakaman jauh dari kata ramai. Mereka yang datang berziarah pun tak berlama-lama, sekadar membersihkan makam, memanjatkan doa, lalu kembali pulang, menyisakan sunyi yang terasa panjang.

Padahal, sehari menjelang Hari Raya Idulfitri biasanya menjadi waktu ramai untuk nyekar. Namun suasana kali ini justru berbeda, jumlah peziarah tampak lebih sedikit dibanding momen megengan atau menjelang Ramadhan.

Dari pantauan JawaPos.com di lokasi, lapak penjual bunga tabur berderet rapi di bagian luar area makam. Aktivitas jual beli tetap ada, meski tak seramai hari-hari menjelang Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya.

Memasuki area pemakaman, peziarah disambut jalan batako selebar sekitar dua meter. Di sisi kiri dan kanan, beberapa pengemis duduk bersila dengan alas seadanya. Mereka memegang kaleng berharap belas kasih dari para peziarah

Di sudut lain, tampak pula jasa pembersih makam yang siap membantu, menjadi bagian dari pemandangan yang lumrah di TPU Ngagel Rejo, Jalan Ngagel Timur No.38, Pucang Sewu, Kecamatan Gubeng, Surabaya.

Salah seorang peziarah di TPU Ngagel Rejo, Widya Sari, warga Menganti, Kabupaten Gresik bercerita bahwa sudah bertahun-tahun, ia selalu nyekar ke makam nenek dan kakeknya saat menjelang Ramadhan dan Lebaran.

"Sudah lama, tiap mau puasa sama lebaran pasti ke sini, sama anak. Mbah saya dimakamkan di sini karena dulu rumah saya di Semolowaru, terus 2015 pindah ke Menganti," ucap Widya kepada JawaPos.com, Jumat (20/3).

Terkait kondisi pemakaman yang lebih lengang, Widya menduga banyak warga Surabaya telah mudik. Sementara dirinya memilih tetap ziarah karena jarak dekat dan tidak sedang pulang kampung.

"Iya mungkin karena sudah banyak yang mudik, ya mbak. Kalau saya kan walaupun di Gresik, itungannya dekat, kebetulan lagi nggak mudik, jadi ke sini. Kalau mudik ya, adek saya yang nyekar," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Ekawati, warga Waru, Sidoarjo. Sore itu, Eka bersama suami dan kedua anaknya nyekar ke makam mertua di TPU Ngagel Rejo. Tradisi ini sudah ia jalankan selama puluhan tahun.

"Setiap tahun selalu ziarah ke sini, makam mertua, cuma pas awal puasa itu yang ziarah adek ipar saya. Nah sekarang gantian yang nyekar saya," ucap Widya sambil berjalan meninggalkan area pemakaman.

Di sisi lain, Kepala TPU Ngagel Rejo, Rudi Hartono, menyebut ziarah kubur atau nyekar merupakan tradisi tahunan umat Islam yang rutin dilakukan menjelang Ramadan maupun sebelum Idulfitri.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore