
Tetua Kampung Pecinan, Surabaya, Dony Tjong saat menjelaskan tradisi dan sembahyang menjelang Tahun Baru Imlek. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026, menjadi momen istimewa yang dinantukan etnis Tionghoa. Penganut kepercayaan Tri Dharma biasanya menjalankan tradisi dan sembahyang.
Seperti yang dilakukan Tetua Kampung Pecinan, Surabaya, Dony Tjong. Sehari menjelang Imlek, Senin (16/2), ia membuka altar sembahyang di rumahnya, lengkap dengan berbagai sesajen yang tertata rapi.
Mulai dari kue keranjang, arak, kopi, pisang raja, daging babi, teh, kopi, sayur-sayuran, manisan, ikan, lengkap dengan lilin dan hio (dupa) menyala di atas penutup kain bergambar naga serta delapan dewa.
Ketika JawaPos.com berkunjung ke kediamannya di Kampung Pecinan, Jalan Kapasan Dalam Gang II, sejumlah anggota keluarga tampak datang dan beribadah dengan membakar hio secara bergantian.
Dony menjelaskan dua hari sebelum perayaan Imlek, penganut kepercayaan Tri Dharma akan melakukan ibadah Nge Jia untuk meminta izin kepada Tuhan agar para leluhur diizinkan turun ke bumi dan merayakan Imlek bersama-sama.
“Jadi kemarin (Minggu, 15 Februari 2025) istri saya sekitar jam 18.00 WIB melakukan Nge Jia dan hari ini baru dilakukan sembahyang leluhur,” ucap Suk Dony, sapaan karibnya, kepada JawaPos.com, Senin (16/2).
Kemudian tepat sehari menjelang Imlek, dilakukan sembahyang arwah atau disebut juga cung kwok sie nen, dengan membuka altar untuk mengundang leluhur ikut turun merayakan Tahun Baru Imlek.
“Jadi kalau leluhur datang, pasti memberikan yang terbaik untuk anak cucunya. Makanya kalau orang Tionghoa itu ajaranya selalu mengutamakan untuk selalu ingat leluhur keluarga," imbuhnya.
Bagi leluhur yang sudah tidak lagi memiliki sanak keluarga yang masih hidup, lanjut Suk Dony, biasanya akan dilakukan Jiet Yek Pan, biasa disebut sembahyang rebutan di Kuil atau Kenteng.
“Jadi untuk leluhur yang sudah tidak memiliki keluarga atau keluarganya tidak buka altar, mereka akan berkumpul di klenteng atau Imlek dalam sembahyang rebutan atau disebut Jiet Yek Pan,” terang Dony.
Sementara saat hari perayaan Imlek, Dony menyebut ada beberapa pantangan yang harus dijatuhi umat Tionghoa, seperti dilarang memotong kuku, tidak boleh keramas, tidak boleh membuat sampah.
"Tidak boleh memotong rambut, kumis, tidak boleh membersihkan rumah. Jadi rumah dibiarkan kotor tidak apa-apa, yang penting rezekinya tidak tersapu, maknanya seperti itu,” jelasnya dengan ramah.
Saat perayaan Imlek, umat Tionghoa mengenakan pakaian serba merah. Keluarga yang lebih mudah mendatangi keluarga yang lebih tua untuk mengucapkan kalimat "Gong Xi", yang berarti selamat atau berbahagialah.
"Lalu keluarga yang sudah menikah biasanya memberikan angpao. Kalau yang punya uang lebih, boleh juga untuk memasang lampion yang melambangkan doa, rezeki, cahaya kehidupan," pungkas Suk Dhony.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Fenerbahce vs Roma di Liga Champions: Duel Seru Berpotensi Seri
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Shakhtar Donetsk di Liga Champions: Kans Boeren Amankan 3 Poin
Rombongan Badan Pangan Ditembaki di Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor Sporting Lisbon vs Galatasaray di Liga Champions: Leões Sikat Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022