Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Januari 2026, 02.04 WIB

Mogok RPH Pegirian Bikin Suplai Daging Terganggu, Pedagang Surabaya Pilih Kulakan ke Luar Kota

Umik Wahid, pedagang daging di Pasar Tambahrejo, Surabaya. (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Umik Wahid, pedagang daging di Pasar Tambahrejo, Surabaya. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Gelombang penolakan atas relokasi Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pegirian, Kecamatan Semampir ke Tambak Osowilangun, Kecamatan Benowo, berdampak pada pasokan daging sapi di Kota Surabaya.

Aksi demonstrasi yang sudah berlangsung selama tiga hari terakhir dan diwarnai mogok kerja para jagal dan pedagang daging RPH, membuat suplai daging di pasaran terganggu, seperti yang terjadi di Pasar Tambahrejo.

Salah satu pedagang di Pasar Tambahrejo Surabaya, Umik Wahid, 71 tahun, mengaku aksi demonstrasi RPH berdampak pada stok daging yang dia jual. Biasanya, ia mengambil 1 kuintal daging dari RPH Pegirian.

Daging tersebut kemudian dijual di pasar dengan harga Rp 120 ribu per kilogram. Namun beberapa hari terakhir, ia tak bisa membeli daging dari RPH karena para jagal dan pedagang melakukan aksi mogok kerja.

"Saya ini mitra dari RPH Surabaya (Pegirian). Biasa beli dari sana terus dijual lagi di pasar Rp 120 ribu per kilogram. Kalau menunggu dari RPH saya tidak jual-jual," tutur Umik sambil melayani pembeli di Pasar Tambahrejo, Rabu (14/1).

Situasi ini menempatkan pedagang daging pada posisi sulit. Pedagang seperti Umik harus memutar otak agar tetap bisa berjualan. Umik pun terpaksa membeli daging dari kota lain, seperti Kedurus dan Krian di Sidoarjo.

"Sekarang saya belinya di Krian, Kedurus (Sidoarjo). Kadang juga dari Madura, ya pokoknya yang ada (daging sapi) dimana, saya ambil. Kalau jaraknya jauh, saya titip saudara yang sesama penjual daging," imbuhnya.

Umik menyebut, harga daging sapi yang didatangkan dari luar kota jauh lebih rendah dibandingkan daging dari RPH Surabaya. Meski ditambah ongkos angkut, harga belinya tetap lebih murah.

"Kalau dari Kedurus atau Krian itu Rp 96 perkilogramnya, kalau di RPH Surabaya bisa Rp 110 perkilogramnya. Jadi saya nggak masalah ambil jauh, kulakan luar kota, daripada nanti gak jual-jual," keluh Umik.

Apalagi keuntungan yang ia dapat antara beli daging di RPH Pegirian, Surabaya dan beli daging di kota lain, tidak jauh berbeda. Bahkan, harga daging sapi di RPH Surabaya cenderung lebih mahal.

"Di situ (RPH Surabaya) harganya paling mahal. Nanti kalau pindah lagi (relokasi RPH dari Pegirian ke Tambak Osowilangun), paling mahalan lagi harganya, kalau pindah malah tambah kecewa," ucapnya.

Namun, Umik enggan ambil pusing. Apabila relokasi RPH membuat harga daging semakin mahal, ia akan memilih membeli daging dari luar RPH Surabaya. "Biar pindah-pindah, nggak pindah terserah, saya ambil mana yang ada gitu," tukas Umik.

Pemkot Surabaya Tetap Relokasi RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun
Meski memicu gelombang protes dari kalangan pedagang daging dan jagal, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tetap akan merelokasi Rumah Potong Hewan (RPH) dari kawasan Pegirian ke Tambak Osowilangun.

Fikser menyebut rencana relokasi RPH sudah disosialisasikan sejak 2016 dan menjadi bagian dari penataan kawasan wisata religi Ampel. oleh karena itu, relokasi tetap dilakukan usai Hari Raya Idulfitri 2026.

“Mereka minta untuk tidak dipindah, tetapi kami coba jelaskan bahwa program ini sudah sejak 2016 dan sudah direncanakan dalam rencana pembangunan kota, termasuk penataan kota di kawasan religi," ucapnya, Selasa (13/1) kemarin.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore