
Salah satu bangunan di kompleks Gedung Negara Grahadi Surabaya dibakar massa pada Sabtu Malam (30/8). (Juliana Christy/Jawa Pos)
JawaPos.com-Malam itu, 30 Agustus 2025, langit Kota Surabaya tidak hanya diterangi cahaya bulan. Dari sisi barat Gedung Negara Grahadi, api menjilat pekat ke udara, memecah suasana yang semula damai menjadi penuh kepanikan. Sebuah bangunan di dalam kompleks Grahadi dibakar massa.
Bersamaan dengan itu, batu, bom molotov, hingga petasan melayang ke arah gedung bersejarah tersebut. Massa yang awalnya berkumpul untuk menyampaikan aspirasi, berubah jadi kerumunan ricuh.
Bagi Kolonel Inf Nico Reza H. Dipura, Kepala Staf Korem 084/Bhaskara Jaya, momen itu akan sulit dilupakan. Dari sambungan telepon, ia mendengar suara tegas Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin: “Segera padamkan.”
Perintah itu sederhana, namun eksekusinya penuh risiko. Pasukan TNI bergerak membuka akses bagi mobil pemadam kebakaran. Masalahnya, jalanan sudah dipenuhi massa. Beberapa bahkan sengaja berbaring telentang, menghadang laju kendaraan.
“Pangdam menekankan, jangan ada kekerasan. Semua harus dilakukan dengan cara humanis, hanya ajakan lisan agar massa mundur,” kenang Kolonel Nico.
Di balik barikade manusia itu, para petugas Damkar Surabaya pun berpacu dengan waktu yang terus berlari. Wakil Kepala Dinas Damkar, Bambang Vistadi, masih merinding saat menceritakan detik-detik genting itu. “Kalau telat lima menit saja, habis sudah Grahadi,” katanya lirih.
Empat unit mobil pemadam api akhirnya berhasil menyelinap masuk lewat sisi belakang gedung yang dibangun pada 1795 itu. Kapasitas tangki yang terbatas memaksa mereka bekerja bergantian, menyemprotkan air di bawah lemparan batu dan letupan petasan. Seorang petugas bahkan terluka terkena ledakan kecil. Dia harus dilarikan ke rumah sakit.
Namun, di tengah kekacauan, ada harapan dan empati. Mahasiswa yang sebelumnya ikut dalam barisan massa, justru turut membantu membuka jalan. Tanpa mereka, mobil pemadam mungkin tak pernah bisa merangsek ke arah Grahadi.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Pangdam V Brawijaya Rudy Saladin menemui massa aksi di depan Grahadi, janji bahas pembebasan pendemo di Polrestabes Surabaya. (Istimewa)
Beberapa jam sebelum api membesar, Pangdam Rudy sempat turun langsung menemui ribuan massa. Sorakan “Ijo! Ijo! Ijo!” mengiringi langkahnya yang tenang ke tengah kerumunan.
“Saya lihat mereka dewasa. Ketika ada yang melempar botol, mahasiswa sendiri yang melarang. Mereka tidak suka kerusuhan,” ujar Rudy.
Dialog pun sempat tercipta. Massa meminta pembebasan rekan mereka yang ditahan di Polrestabes Surabaya. Rudy, bersama Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Kapolda Jatim, turun tangan mencari solusi. Namun begitu rombongan meninggalkan lokasi, bara kericuhan kembali menyala.
Ketika kobaran api akhirnya padam, hanya tersisa wajah letih, baju basah, dan debu hitam di udara. Tapi ada pula rasa lega dan syukur karena bangunan utama Grahadi bisa diselamatkan.
“Kalau terlambat dua sampai lima menit, mungkin Grahadi sudah rata dengan tanah,” ucap Bambang Vistadi dengan suara bergetar.
Bagi Pangdam Rudy, malam itu meninggalkan pelajaran penting. Stabilitas bukan tugas aparat semata. “Kita hidup di era post-truth. Kalau pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan dunia usaha tidak saling percaya, yang hancur pertama kali adalah ekonomi,” tegasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
