Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 September 2025 | 03.44 WIB

Miris! Dua Cagar Budaya di Surabaya Dibakar Saat Demo Ricuh, Pemerhati Sejarah: Restorasi Tak Bisa Kembalikan Nilai Sejarah

Gedung Grahadi yang menjadi rumah dinas Gubernur Jatim dibakar massa yang melakukan aksi unjuk rasa. (Platform X) - Image

Gedung Grahadi yang menjadi rumah dinas Gubernur Jatim dibakar massa yang melakukan aksi unjuk rasa. (Platform X)

JawaPos.com - Terbakarnya sisi barat Gedung Negara Grahadi, Surabaya dan Polsek Tegalsari, Surabaya saat demonstrasi Sabtu malam (30/8), menuai keprihatinan. Dua bangunan cagar budaya ini habis dilalap api.

Dalam hitungan jam, sisi barat Gedung Grahadi dan Polsek Tegalsari porak-poranda. Sisa bangunan kayu dan barang-barang lain berubah menjadi arang serta abu. Tembok menghitam pekat akibat asap kebakaran hebat.

Atap bangunan lenyap dilahap si jago merah, meninggalkan rangka hangus dan genteng berserakan di tanah. Coretan vandalisme berisi umpatan tampak jelas memenuhi sejumlah sudut dinding bangunan.

Pemerhati Sejarah sekaligus pendiri Komunitas Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo menyayangkan ulah segelintir oknum yang  membakar dua bangunan cagar budaya di Kota Pahlawan ini. 

Kuncarsono menilai Gedung Grahadi dan Polsek Tegalsari masih bisa direstorasi (dipulihkan) karena data teknis dan dokumentasi foto tersedia. Namun, nilai sejarah dari bangunan yang sudah berdiri ratusan tahun, berkurang. 

“Masih memungkinkan untuk direstorasi, tetapi nilai sejarahnya tidak lagi utuh karena orang gak bisa lagi lihat aslinya. Kita tidak akan menemukan lagi model struktur, meskipun nanti dicarikan semirip mungkin," ujarnya, Selasa (2/9).

Sisi Barat Grahadi, Pavilion Bergaya Perancis yang Berusia Lebih dari Dua Abad

Kuncarsono mengatakan sisi barat Gedung Negara Grahadi yang terbakar pada Sabtu (30/8) berstatus cagar budaya nasional. Bangunan tersebut berdiri sejak 1789 atau sudah lebih dari 2 abad.

Sisi barat Gedung Negara Grahadi berfungsi sebagai pavilion dengan gaya arsitektur Perancis. Karena saat itu, Belanda masih dikuasai oleh Perancis, sehingga terdapat pengaruh pada bangunan. 

“Dulu waktu Grahadi masih menghadap ke sungai, bangunan yang terbakar itu bagian sayap ala bangunan Perancis. Model atap, tembok, lengkung, semua seperti awal dibangun,” tutur Kuncarsono.

Kantor Polisi Bersejarah Tahun 1924 dengan Bunker dan Arsitektur Tropis Langka

Sementara Polsek Tegalsari, dulunya merupakan kantor polisi bernama Politiebureau 2e sectie. Bangunan ini dibangun pada 1924 dan digunakan sebagai antisipasi serangan pasca Perang Dunia I. 

Di sisi belakang Polsek Tegalsari, masih terdapat bunker. Kantor polisi yang berada di Jalan Basuki Rahmat ini juga memiliki gaya arsitektur tropis yang langka dan masih asli sejak pertama kali dibangun.

“Bentuknya segi delapan. Ruang tahanan di sisi heksagonal belakang. Kemudian bagian depan langsung dihadapkan ke jalan, di tengahnya ada ruang terbuka secara alami biar cahaya dan angin masih bisa masuk,” imbuhnya.

Mirisnya, perusakan cagar budaya tidak hanya terjadi di Surabaya. Kuncarsono menyoroti  koleksi Museum Bhagawanta Bhari di Kediri yang habis dijarah oleh oknum. Barang-barang peninggalan ludes.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore