Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 02.43 WIB

Polisi Pukul Mundur Pendemo di Surabaya dengan Meriam Air dan Gas Air Mata, Massa: Revolusi, Revolusi, Revolusi!

Demo di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya ricuh. Aparat pukul mundur massa dengan meriam air dan gas air mata, Jumat (29/8). (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Demo di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya ricuh. Aparat pukul mundur massa dengan meriam air dan gas air mata, Jumat (29/8). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Aksi di Depan Gedung Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Jumat (29/8) berakhir ricuh. Lempar-lemparan petasan, semburan meriam air, hingga gas air mata mewarnai jalannya unjuk rasa.

Kericuhan terjadi sejak awal aksi, sekitar pukul 14.30 WIB. Tanpa ada orasi, massa langsung melemparkan benda di sekitar, seperti botol, batu, kardus, pot bunga, petasam hingga bom molotov ke dalam gedung Grahadi Surabaya.

Aparat kepolisian kemudian menembakkan meriam air atau water cannon untuk meredam kericuhan yang terjadi. Massa aksi yang kompak mengenakan pakaian serba hitam itu tampak berlarian mundur untuk berlindung.

Namun di sisi lain, massa aksi semakin kompak dan tidak bergeming. Mereka bahkan mencoba menjebol kawat berduri dan mendekati gedung Grahadi. Keteganggan antaran massa dan aparat pun semakin keras. 

Aksi lempar-lemparan benda pun terjadi cukup lama. Hingga akhirnya sekitar pukul 16.00 WIB, aparat mulai melempar gas air mata kepada massa. Dentuman antara suara petasan dengan suara gas air mata pun saling bersahutan.

"Revolusi, revolusi, revolusi," ucap massa aksi dengan kompak, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang. 

Tidak mau kalah, aparat polisi membalas massa dengan tindakan agresif. Mereka terus menerus menembakkan meriam air dan gas air mata kepada massa. Awak media yang sedang bertugas meliput juga terkena imbasnya. 

Barikade pun mendekat dan memukul mundur massa aksi, seiring ditembakkannya gas air mata. Massa aksi pun kocar kacir menyelamatkan diri ke Jalan Pemuda, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Panglima Sudirman.

Dari pantauan JawaPos.com, hingga pukul 18.30 WIB, tembakan gas air mata dan meriam air masih dilakukan oleh aparat kepolisian. Massa pun belum bubar dan masih di beberapa tempat sekitar Gedung Negara Grahadi.

Sementara itu, Kepala Biro KANHAM (Kampanye Hak Asasi Manusia) Kontras Surabaya, Zaldi Maulana mengatakan aksi hari ini adalah bentuk kekecewaan masyarakat terhadap aparat kepolisian yang bertindak sembrono.

"Kami mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menghentikan penggunaan kekerasan berlebihan dalam setiap penanganan demonstrasi dan unjuk rasa," tutur Zaldi kepada awak media, Jumat (29/8).

Zaldi menyebut ada lima tuntutan yang dibawa massa aksi hari ini, berikut:
1. Menghentikan penggunaan kekerasan berlebihan dalam setiap penanganan demonstrasi dan unjuk rasa
2. Memecat dan memberikan hukuman sesuai mekanisme hukum pidana seluruh personel kepolisian yang telah terbukti melakukan tindak kekerasan sehingga menyebabkan gugurnya Affan Kurniawan
3.    Memberikan restitusi dan pemulihan kepada seluruh korban kekerasan polisi pada demonstrasi 25-28 Agustus 2025  
4.    ⁠Bebaskan seluruh massa peserta aksi demonstrasi 25-28 Agustus 2025 yang saat ini ditahan di Mapolda Metro Jaya.
5.    Terapkan Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. (*)

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore