
Keluarga korban ungkap kronologi meninggalnya Bhagas usai operasi amandel di salah satu rumah sakit di Sidoarjo. (Juliana Christy/JawaPos.com)
JawaPos.com–Raden Bhagas Priyo, pemuda 28 tahun asal Sidoarjo, meninggal dunia setelah menjalani operasi amandel di salah satu rumah sakut swasta di Sidoarjo pada 21 September 2024. Peristiwa ini menyisakan luka mendalam bagi sang ibu, Anju Vijayanti, yang menilai banyak kejanggalan sejak awal hingga anaknya dinyatakan wafat.
Bhagas masuk rumah sakit dalam kondisi sehat sehari sebelumnya, pada 20 September. Dia direncanakan menjalani operasi amandel pada keesokan harinya, pukul 12.00 WIB. Namun, hanya beberapa jam setelah tindakan medis itu dilakukan, nyawanya tak tertolong.
“Saya antar sore, besoknya operasi jam 12 siang. Tapi sorenya saya sudah bawa pulang jenazah anak saya,” ucap Anju.
Salah satu yang disoroti keluarga adalah pemberian makanan kepada Bhagas sebelum operasi. Anju menyebut anaknya diberi makan pukul 08.00 WIB, hanya empat jam sebelum tindakan.
“Saya sendiri yang motret makanannya. Isinya bubur kasar, ayam, dan tiga butir telur puyuh,” ungkap Anju Vijayanti.
Padahal menurut standar medis, pasien seharusnya puasa minimal enam jam sebelum operasi. Pemberian makan itu disebut atas anjuran dokter anestesi yang khawatir asam lambung Bhagas naik karena dianggap berbadan gemuk.
Namun yang disesalkan Anju, dokter tersebut bahkan belum pernah bertemu langsung dengan anaknya sebelumnya.
“Katanya anak saya gemuk, padahal belum pernah lihat. Tidak ada observasi sama sekali. Tapi sudah bisa menyimpulkan dan menyarankan makan pagi sebelum operasi,” ungkap Anju Vijayanti.
Setelah operasi, Bhagas sempat dipindahkan ke ruang ICU. Di situlah dokter memberi penjelasan bahwa kematian Bhagas diduga akibat serangan jantung, tensi tinggi, dan faktor kegemukan.
“Saya tanya, kalau tensinya 180/200 kenapa tetap dioperasi? Dokternya diam, tidak bisa menjawab,” ucap Anju.
Dia juga menyesalkan tidak adanya pemeriksaan ulang terhadap kondisi vital anaknya menjelang operasi. Hasil lab yang dipakai, berasal dari 10 hari sebelumnya.
Anju juga membantah anggapan bahwa anaknya adalah perokok. Dia menilai hal itu merupakan asumsi yang tidak berdasar dari pihak rumah sakit.
“Setelah anak saya meninggal, dokter bilang biasanya yang seperti ini karena merokok. Tapi anak saya tidak merokok,” tegas Anju Vijayanti.
Dia juga menilai penjelasan dokter soal metode atau penyebab kematian sangat minim dan tidak transparan. “Saya hanya diberi tahu meninggal karena serangan jantung. Tapi serangan itu dipicu apa, tidak dijelaskan,” kata Anju Vijayanti.
Pasca peristiwa itu, pihak rumah sakit disebut belum memberikan penjelasan atau dokumen medis yang lengkap kepada keluarga. “Kami hanya diberi ringkasan pulang. Waktu kami minta resume medis, katanya itu sudah cukup. Bahkan humas rumah sakit sempat janji mau mengantar resume medis ke rumah, tapi sampai sekarang tidak ada,” ungkap Anju.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
