Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Mei 2025 | 23.25 WIB

Operasi Amandel Berujung Maut, Ibu Korban Menanti Keadilan Dugaan Malpraktik

Anju Vijayanti, ibu dari korban meninggal usai operasi amandel di salah satu rumah sakit swasta di Sidoarjo menuntut keadilan. (Juliana Christy /JawaPos.com) - Image

Anju Vijayanti, ibu dari korban meninggal usai operasi amandel di salah satu rumah sakit swasta di Sidoarjo menuntut keadilan. (Juliana Christy /JawaPos.com)

JawaPos.com - Sembilan bulan sudah berlalu sejak kematian tragis Raden Bagas Priyo, 28, usai menjalani operasi amandel di sebuah rumah sakit di Sidoarjo. Sang ibu, Anju Vijayanti, masih terus berjuang mencari keadilan atas kepergian anaknya yang menurutnya penuh kejanggalan. 

“Saya mengantar anak saya dalam keadaan sehat, dan pulang hanya membawa jenazah,” ujar Anju pilu.

Sejak peristiwa pada 21 September 2024 itu, keluarga sudah melaporkan kasus ke Polresta Sidoarjo. Namun, proses hukum yang berlangsung hingga kini masih berada di tahap penyelidikan. “Sudah 9 bulan, belum ada kepastian,” tegasnya.

Anju juga mengeluhkan tidak adanya transparansi dari pihak rumah sakit. Ia mengaku tak pernah diminta menandatangani surat persetujuan operasi (inform consent). Bahkan setelah berkali-kali meminta salinan dokumen dan hasil rekomendasi Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), keluarga belum pernah menerima satu pun.

“Saya tanya ke perawat, apa perlu saya tanda tangan? Mereka jawab tidak ada yang perlu ditandatangani,” ucapnya. Ia merasa prosedur medis diabaikan. 

Anak sulungnya yang gemuk diberi makan hanya empat jam sebelum operasi, padahal standar medis menyebutkan pasien harus puasa minimal enam jam.

Setelah operasi, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa Bagas meninggal karena serangan jantung, tensi tinggi, dan kegemukan. Namun, Anju menilai alasan itu tidak masuk akal karena anaknya tak pernah diperiksa secara menyeluruh sebelum operasi. Hasil lab terakhir pun berasal dari 10 hari sebelumnya.

Hingga kini, satu-satunya yang diberikan pihak rumah sakit hanya ringkasan medis dan pembebasan biaya pemulasaraan jenazah. “Itu pun katanya karena alasan kemanusiaan,” ujar Anju, yang juga mengungkap bahwa biaya seharusnya ditanggung BPJS.

Anju menutup dengan pesan haru kepada Presiden Prabowo dan Kapolri. “Kami hanya ingin keadilan. Jika tidak bisa ditemukan di rumah sakit atau kantor polisi, maka kami akan cari keadilan di hati nurani rakyat. Kami tidak akan diam," tuturnya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore