
Parade musik saat membangunkan warga sahur di Surabaya. (Hadyan Nandana/Jawa Pos)
JawaPos.com - Membangunkan warga untuk bersahur pada bulan Ramadhan sudah lazim dilakukan oleh tradisi patrol. Namun ada nuansa unik yang muncul dalam patrol dengan melakukan parade. Situasi unik ini berlangsung di Jalan Tunjungan, Surabaya Minggu (9/3).
Yakni bertepatan dengan Hari Musik Nasional, Parade Musik Patrol digelar menampilkan kelompok sejumlah grup musik patrol. Salah satunya adalah dari paguyuban Bringin Korong asal Pamekasan. Mereka menampilkan musik Daul Madura.
Jenis komposisi musik Daul Madura ini menggunakan alat-alat tradisional. Seperti rebana, kendang dan saron tak luput untuk digunakan. Namun sisi keunikan yang menjadi ciri khasnya adalah besi bekas yang ditabuh untuk meramaikan komposisi musik mereka.
Berdentang dan bergemericik alat-alat musik itu ditabuh, dinyanyikan dengan lagu-lagu daerah khas madura dan sesekali lagu melayu. Ditabuh beriringan, musik itu sesekali meneriakkan ajakan untuk sahur. “Sahur, sahur, hok a, hok, e,” begitulah teriakan yang mewarnai pagi buta itu di jalan tunjungan.
Yang tak kalah unik, pembawaan musik daul ini dibawakan dengan dekorasi sosok naga raksasa. dinaikan di atas kendaraan pick up, alat musik itu dirias dengan sosok naga besar berwarna hijau menyala. Lampu-lampunya menerangi sisi-sisi naga yang diiringi oleh 35 rombongan. Penabuh alat musik itu berjejal, baik di sekitar maupun dibelakang sosok naga.
“Ciri khas kami, seperti yang biasa dilakukan di pamekasan Musik Daul itu ya diiringi dengan dekorasi macam-macam rupa. Tapi dari Bringin Korong ini kami membawa riasan dekorasi sosok naga untuk meriahkan parade musik patrol di gelaran hari musik nasional,” ungkap Misyari Yusman Ali, Pemandu Musik Daul dengan nada bicara khas Madura.
Untuk diketahui, parade ini kurang lebih berlangsung dari pukul 12 dini hari. Mereka berarak-arakan start dari Taman Budaya Jawa Timur. Kemudian melintasi jalan tunjungan berputar hingga balik lagi ke Taman Budaya.
Penyelenggara Hari Musik Nasional Heri Lentho mengatakan, parade itu bagian dari menyemarakkan bulan Ramadhan sekaligus menjadi alternatif kritik di hari musik nasional.
“Hari Musik Nasional momentumnya tepat dengan Ramadhan. Jadi kami undang pelaku musik daerah kayak Bringin Korong yang bisa menjadi contoh bahwa ada lho pawai yang musiknya diiringi nada-nada harmoni dan kreatifitas. Tidak seperti musik horeg yang menonjolkan goyangan sensualitas dan musik yang keras,” tuturnya. (had)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
