JawaPos.com – Leprosy atau lepra masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Jawa Timur. Penyakit infeksi kronis yang menyebabkan lesi kulit dan kerusakan saraf ini terus menjadi perhatian serius, terutama di beberapa daerah seperti Madura.
Prof. Dr. dr. Muhammad Yulianto Listiawan, SpDV(K), FINSDV, FAADV, Kepala SMF/Departemen Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo FK Unair Surabaya, mengungkapkan bahwa penularan lepra sering terjadi dalam lingkungan keluarga melalui kontak erat. Hal ini mencakup penularan melalui udara saat berbicara atau interaksi langsung dengan anggota keluarga yang terinfeksi.
“Salah satu pasien yang kami periksa adalah anak laki-laki berusia 9 tahun yang telah menderita lepra selama enam bulan. Pasien ini juga memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa, yakni kakaknya dan anak dari kakaknya,” ungkapnya pada JawaPos.com.
Yulianto menjelaskan bahwa penyebaran lepra di Jawa Timur, khususnya di wilayah Madura, masih cukup tinggi. Penyakit ini bisa menyerang berbagai usia, termasuk anak-anak. "Usia yang terinfeksi sangat bervariasi, termasuk anak-anak seperti pasien ini. Penularan sering terjadi dalam lingkungan keluarga,” jelasnya.
Kasus lepra pada anak menunjukkan bahwa penularan masih berlangsung aktif di komunitas, yang menandakan perlunya perhatian lebih serius dalam pencegahan dan penanganan penyakit ini.
Dalam hal pengobatan, Yulianto menuturkan bahwa Indonesia sebelumnya mendapatkan dukungan obat-obatan lepra dari organisasi internasional BAU (Brand Aid Union). Namun, meskipun donasi tersebut berkurang, pemerintah berhasil memenuhi kebutuhan obat sehingga pengobatan lepra tetap tersedia secara gratis di seluruh fasilitas kesehatan.
“Pengobatan lepra saat ini sudah gratis dan tersedia di semua fasilitas kesehatan. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam upaya pengendalian penyakit lepra,” ujarnya.
Meski demikian, upaya pencegahan dan deteksi dini di lapangan masih menghadapi tantangan. Menurut Yulianto, puskesmas sebagai garda terdepan telah dilatih untuk mendeteksi kasus lepra sejak dini. Namun, pergantian tenaga medis yang cepat sering kali menjadi hambatan.
“Sebenarnya, puskesmas sudah mampu mendeteksi kasus lepra sejak dini. Namun, pergantian tenaga medis yang cepat menghambat kontinuitas pelatihan dan pelayanan. Ini menjadi tantangan utama dalam upaya pencegahan dan pengendalian lepra,” tambahnya.
Leprosy adalah penyakit yang dapat disembuhkan, terutama jika didiagnosis dan diobati sejak dini. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai gejala lepra sangat penting agar pasien bisa segera mendapatkan penanganan medis. Lesi kulit mati rasa, perubahan warna kulit, dan penebalan kulit merupakan gejala umum yang perlu diwaspadai.
Lebih lanjut, Yulianto menekankan bahwa dukungan semua pihak, baik tenaga medis, pemerintah, maupun masyarakat, sangat diperlukan untuk memutus mata rantai penularan lepra. “Penanganan lepra bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga deteksi dini, pencegahan penularan, dan dukungan sosial bagi pasien,” tegasnya.
Dengan pengobatan yang tersedia dan upaya pencegahan yang berkelanjutan, diharapkan kasus lepra di Jawa Timur, khususnya di daerah-daerah endemis seperti Madura, dapat berkurang secara signifikan.