Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 September 2024 | 17.03 WIB

Solusi Kekurangan Dokter di Surabaya, Kampus Tambah Kuota Mahasiswa FK

Ilustrasi seorang dokter. (GenAI Dall-E) - Image

Ilustrasi seorang dokter. (GenAI Dall-E)

JawaPos.com - Jumlah dokter di Kota Surabaya masih minim. Berdasar rasio kependudukan Surabaya, sebanyak 1.000 penduduk dilayani 2,95 dokter. Untuk mencukupi kebutuhan dokter, saat ini kampus-kampus yang memiliki fakultas kedokteran (FK) berupaya menambah kuota penerimaan mahasiswa kedokteran.

Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya dr Sukadiono mengatakan, FK UM Surabaya sudah berdiri delapan tahun. Total saat ini sudah meluluskan 100-an dokter. Sementara, kuota pada tahun pertama dan kedua masih 50 mahasiswa. Lalu, meningkat 80 mahasiswa.

”Sekarang sudah menerima 100 mahasiswa. Ke depan kalau sudah akreditasi A, bisa menerima 200 mahasiswa,” imbuhnya.

Sukadiono berharap kuota mahasiswa baru FK bisa ditinjau ulang. Dengan begitu, produksi dokter bisa ditingkatkan. Selain itu, selama ini FK UM Surabaya menerima banyak mahasiswa dari Pulau Jawa.

’’Kami membuat passing grade yang berbeda antara calon FK dalam Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Harapannya, mahasiswa dari luar Pulau Jawa bisa mengisi kekosongan dokter di daerah asalnya,” katanya.

Dekan FK Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Dr dr Handayani MKes mengatakan, animo peminat FK di kampusnya terus meningkat. Dia mengatakan, pada penerimaan 2024, pihaknya berhasil menjaring sekitar 500 pendaftar.

”Setiap tahun, kenaikannya cukup stabil,” tuturnya. Padahal, mahasiswa yang diterima hanya 100–110 orang per angkatan.

Dia mengatakan, FK di Surabaya masih menjadi jujukan banyak peminat dari berbagai wilayah di Indonesia. Pihaknya juga sebisanya mewadahi minat tersebut. ”Kami cukup sering menerima mahasiswa asal Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua,” tuturnya.

Handayani menambahkan, mahasiswa asal daerah luar Jawa cenderung ingin kembali ke kampung asal untuk mengabdi.

Unusa, kata dia, sudah berkolaborasi dengan pondok pesantren di Jatim hingga Jateng untuk mencari peminat dan bibit unggul. ”Kami upayakan tes dan wawancara bisa daring supaya mereka tidak kesulitan sejak awal,” tuturnya. Selain itu, bantuan pembiayaan dikolaborasikan dengan banyak pihak.

Dia berharap makin banyak pemerintah daerah yang mau berkontribusi dalam pembiayaan kuliah calon dokter yang potensial ini. Meski Surabaya menjadi lokasi yang menarik untuk bekerja, banyak mahasiswa daerah tersebut yang tak berkeberatan kembali ke kampung.

Handayani mengatakan, kontribusi kampus di Surabaya untuk pemerataan dokter perlu juga ditunjang peraturan yang rigid. ”Untuk distribusi dokter ke daerah-daerah, perlu pengaturan dan pendanaan pusat. Kolaborasi Kemenkeu, Kemendagri, Kemenkes, dan Kemendikbudristek,” jelasnya.

Sementara itu, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) setiap tahun meluluskan 80–100 dokter. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan UWKS Dr dr Sukma Sahadewa MKes menyampaikan, pihaknya telah melahirkan 5.627 dokter yang kini tersebar di dalam negeri maupun luar negeri.

”Peminat kedokteran di Pulau Jawa ini tentu masih tinggi. Bahkan, terakhir kemarin pendaftar di kedokteran kami mencapai 600 orang,” ungkap Sukma saat ditemui kemarin (5/9). Namun, menurut dia, yang perlu diperhatikan adalah animo dari luar Jawa.

Isu kekurangan dokter yang penyebarannya masih dianggap belum rata, lanjut dia, bukan hanya soal para calon dokternya. Tapi, juga faskes di daerah asal masing-masing yang masih kurang lengkap.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore