
LANGKA: Wayang potehi di Kelenteng Hok Tiek Hian.
KESIBUKAN bertambah di Pecinan Tambak Bayan dan Kapasan Dalam menjelang perayaan Imlek tahun ini. Lampion-lampion dan hiasan berbentuk naga menyemarakkan dua kampung yang letaknya tidak jauh dari Kembang Jepun, pusat keramaian pecinan, tersebut. Semuanya bersiap menyambut Tahun Naga Kayu.
Liem Kiem Hau alias Gepeng mengatakan bahwa warga Tambak Bayan sedang asyik berkreasi dengan lampion. Bukan hanya yang bentuknya pakem. Warga juga membuat lampion beragam bentuk dan warna. ”Kami juga membuat lampion raksasa karena ada pesanan dari komunitas pelukis cat air,” katanya sambil menunjukkan workshop pembuatan lampion pada Rabu (31/1).
Warga bergotong royong membuat lampion di Tha Yang atau Rumah Besar. Bukan hanya warga dewasa, melainkan juga anak-anak dan remaja. ”Ini tahun ketiga kami membuat event festival lampion. Tahun lalu pameran lampion,” imbuh Gepeng.
CAK GEPENG: Liem Kiem Hau adalah generasi ketiga keturunan Tionghoa di Kampung Tambak Bayn.
Setiap Imlek, ritual warga Tambak Bayan selalu sama. Yakni, sembahyang pada H-1 atau pada 9 Februari nanti. Sembahyang akan berlangsung di waktu bersamaan, mulai pagi hingga sore. ”Setelah sembahyang, mereka akan menyajikan makan besar di rumah masing-masing,” ujarnya.
Pada hari H, menurut Suseno Karja, biasanya ada tradisi barongsai keliling kampung serta pergelaran budaya Tionghoa dan Jawa. ”Baru dua minggu setelahnya warga menggelar cap go meh,” ujar pria yang menjabat wakil ketua RT 2 RW 8, Kelurahan Alun-Alun Contong, sekaligus pengurus Pecinan Tambak Bayan itu.
Persiapan Imlek di Pecinan Kapasan Dalam pun melibatkan semua warga. Yang menonjol di sana adalah hiasan berupa lampion. ”Tahun ini mungkin tidak banyak kegiatan seperti tahun lalu karena masih nuansa menjelang pemilu,” ujar Michael Wijaya, wakil ketua Wisata Kampung Pecinan Kapasan Dalam. Pernyataan itu diamini Dony Djhung, tour guide pecinan, yang mendampingi Michael berbincang dengan Jawa Pos.
SESEPUH: Dony Djhung dipercaya sebagai tour guide di Kampung Kapasan Dalam yang juga dikenal sebagai Kampung Kungfu.
Kendati demikian, tradisi Imlek akan tetap dilakukan. Bahkan, para pengusaha yang masih punya rumah di kampung tersebut akan mudik dari mana pun tempat tinggal mereka sekarang. ”Mereka mudik untuk sembahyang kepada leluhur di rumah masing-masing,” terangnya.
Pada malam Imlek, warga masih melangsungkan tradisi makan bersama. Selain itu, tradisi unjung-unjung atau bertamu ke rumah tetangga juga masih lestari. Tahun-tahun sebelumnya, Imlek diramaikan dengan atraksi Dewa Rezeki yang berkeliling kampung untuk membagikan permen. Lalu, pada sore harinya, ada atraksi barongsai keliling kampung. ”Tahun ini kami tidak melangsungkan atraksi-atraksi tersebut untuk menghormati masa tenang,” ungkap Michael. (ayu/c6/hep)
PELESTARI: Suseno Karja bangga merawat dan meneruskan tradisi leluhur di Kampung Tambak Bayan.
---
AKULTURASI BUDAYA DI BALIK WAYANG POTEHI SURABAYA
Sumber: Reportase Jawa Pos

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
