
SANG PENDIDIK: Tri Wahyuningtyas, guru PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja), memberikan materi pelajaran kepada siswa SDN Jemur Wonosari 1, Surabaya.
JawaPos.com - Porsi jam mengajar guru di Surabaya dinilai belum ideal. Hal itu dipengaruhi jumlah tenaga pengajar yang juga belum memenuhi kebutuhan minimal Surabaya. Tahun ini Pemkot Surabaya kembali mengajukan penambahan guru ke pemerintah pusat.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Yusuf Masruh. Tahun ini pihaknya kembali mengajukan penambahan guru ke pemerintah pusat. Jumlahnya mencapai 800 orang.
Namun, permintaan penambahan tenaga pendidik tersebut bukan berasal dari aparatur sipil negara (ASN). Suplai guru akan diisi oleh pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Sama seperti tahun sebelumnya.
’’Tahun lalu kami sudah dapat (tambahan guru, Red). Jumlahnya 1.513 tenaga guru PPPK. Namun, kami rasa perlu penambahan lagi,’’ katanya.
Dia mengatakan, penambahan 1.513 guru PPPK ternyata belum cukup mendorong beban mengajar guru yang sekarang ke angka ideal. Saban pekan idealnya seorang guru mengajar dengan durasi waktu total 24 jam. Namun, sekarang masih di angka 30 jam, bahkan lebih.
’’Ini yang menjadi pertimbangan kami untuk mengajukan penambahan lagi. Apalagi tanggungan guru itu bukan hanya mengajar, ada pekerjaan lain seperti administrasi yang harus ditangani,’’ jelasnya.
Soal bagaimana proses pengajuan penambahan guru tersebut, Yusuf menyebut surat permintaan tambahan PPPK sudah dikirim. Pihaknya masih menunggu jawaban dari pusat.
’’Sebab, proses pengadaan PPPK perlu waktu. Prosesnya juga panjang. Yang pasti, ini demi pendidikan di Kota Surabaya yang lebih baik,’’ katanya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Surabaya Agnes Warsiati menyatakan mendukung langkah yang diambil dispendik untuk meminta penambahan guru. Sebab, yang terjadi di lapangan memang demikian. Beban guru masih berat. Banyak faktor yang membuat hal itu terjadi.
’’Faktornya memang banyak ya. Seperti guru yang meninggal hingga pensiun. Nah, untuk menutupi kebutuhan guru itu, otomatis jam mengajar harus ditambah,’’ terangnya.
Agnes menyebut hal itu membuat beban kerja guru praktis bertambah. Namun, di satu sisi ada tanggung jawab moral yang tidak bisa ditinggalkan. Mereka harus tetap prima meski ada beban tambahan.
’’Tidak mungkin kami mengorbankan anak didik. Dalam posisi ini, kami harus legawa. Memang sejatinya guru bertanggung jawab mendidik siswanya. PGRI pun terus mendorong agar jumlah guru bisa ditambah,’’ ujarnya. (gal/c6/git)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
