
Photo
JawaPos.com– DPRD Surabaya meminta pemkot mempercepat penuntasan proyek jalan lingkar luar timur (JLLT), terutama di kawasan padat penduduk. Selama ini, pekerjaan infrastruktur sepanjang 16,8 kilometer itu terhenti karena problem lahan.
Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono mengatakan, pembebasan lahan JLLT harus dipercepat. Khususnya, di kawasan padat penduduk. Misalnya, di kawasan simpang lima Keputih Tegal, Sukolilo, yang dikenal padat. ”Kemacetan di sana luar biasa. Apalagi saat jam berangkat dan pulang kerja,” ujarnya.
Di lokasi itu, ada sebagian rumah dan pekarangan warga yang masuk dalam peta pembebasan lahan. Dia mendorong Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya untuk mempercepat pembebasan lahan. Jika tidak segera, pemkot diprediksi menemui kesulitan. Sebab, harga lahan pasti naik mengikuti nilai jual objek pajak (NJOP). ”Kalau tidak dimulai sekarang, tambah tahun pasti tambah mahal. Harga pasar pasti naik,” papar Baktiono.
Nah, lahan yang sudah dibebaskan harus segera dibangun jalan. Tujuannya, mencegah penyalahgunaan lahan oleh oknum. ”Yang sudah dibebaskan itu yang dibangun lebih dulu,” imbuhnya.
Proyek JLLT memang tidak bisa tuntas dalam satu periode kepemimpinan wali kota. Tapi, harus dilanjutkan oleh wali kota berikutnya secara berkesinambungan. ”Skema pembangunan JLLT ini harus multiyear. Nggak bisa dalam satu periode wali kota saja,” jelas Baktiono.
DSDABM memastikan akan kembali melanjutkan pembebasan lahan JLLT. Dalam RAPBD 2023, dianggarkan Rp 200 miliar untuk pembelian tanah. Nominal itu sudah disepakati Komisi C DPRD Surabaya.
Kepala Dinas SDABM Kota Surabaya Lilik Arijanto berharap anggaran Rp 200 miliar itu bisa menambah jumlah lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur JLLT. ”Pembebasan lahan JLLT masuk prioritas tahun depan,” jelas Lilik.
Menurut Lilik, pihaknya sudah merancang penetapan lokasi (penlok) pembangunan JLLT. Panjangnya sekitar 16,8 kilometer. Akses penghubung Surabaya–Sidoarjo itu melintasi enam kecamatan. Meliputi Kecamatan Kenjeran, Bulak, Mulyorejo, Sukolilo, Rungkut, dan Gunung Anyar. Titik terakhir di exit toll Tambak Sumur, Juanda.
Namun, pekerjaan fisik belum bisa terlaksana pada 2023. Setidaknya akan dimulai pada 2024. Selain APBD, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga akan turun tangan untuk membantu percepatan proyek tersebut. ”Diperkirakan 2024 mulai lagi (pekerjaan fisik, Red),” jelas Lilik.
Diketahui, saat ini JLLT sudah tersambung di dua lokasi. Yaitu, kawasan Nambangan hingga Bulak. Panjangnya 850 meter. Selain itu, sebagian di Mulyorejo yang panjangnya mencapai 400 meter.
Pemkot dan DPRD Surabaya sudah sepakat melanjutkan pengerjaan JLLT. Dewan meminta proyek tersebut dikebut. Pembangunan JLLT diharapkan mampu mengurangi kepadatan jalan di metropolis.
---
Seputar Jalan Luar Lingkar Timur

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
