Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Mei 2022 | 18.48 WIB

Jadikan Taman Remaja Surabaya Kawasan Seni Terintegrasi

TINGGAL PUING: Pekerja membongkar sarana bermain di Taman Remaja Surabaya (TRS). Banyak warga Surabaya yang memiliki kenangan masa kecil di tempat itu. (Galih Adi Prasetyo/Jawa Pos) - Image

TINGGAL PUING: Pekerja membongkar sarana bermain di Taman Remaja Surabaya (TRS). Banyak warga Surabaya yang memiliki kenangan masa kecil di tempat itu. (Galih Adi Prasetyo/Jawa Pos)

JawaPos.com – Pengembangan kawasan Hi-Tech Mall dan Taman Remaja Surabaya (TRS) mandek sejak 2019. Pemkot Surabaya masih menjajaki pihak ketiga yang mau mengelola tempat tersebut. Rencananya, lokasi itu dikonsep sebagai ruang publik yang ekspresif.

Setelah mengambil alih pengelolaan, pemkot melakukan pembersihan dan penertiban di kawasan Hi-Tech Mall, Kampung Seni, dan TRS. Misalnya, pembongkaran aset-aset yang menjadi milik pengelola sebelumnya.

TRS yang penuh dengan wahana permainan kini hanya menyisakan puing fondasi dan tembok. Terlihat kubangan fondasi yang sudah dibongkar dan diambil besinya. Berdasar perjanjian dengan pengelola sebelumnya, memang yang dikembalikan ke pemkot berupa tanah saja. Aset di atasnya menjadi hak penyewa sebelumnya.

Sementara itu, pedagang yang tersisa di Hi-Tech Mall masih mendapat kelonggaran. Mereka tetap diizinkan berdagang. Namun, saat investor masuk, pengelola mereka ada di bawah penyewa.

Soal seperti apa kompleks itu ke depan, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Ira Tursilowati menyebutkan, saat ini hanya dilakukan perencanaan jangka pendek. Misalnya, pembenahan lapak pedagang yang tersisa di gedung Hi-Tech Mall dan perawatannya. Sebab, masih ada lebih dari 150 pedagang di sana.

Ira menjelaskan, sesuai keinginan wali kota, wajah kompleks di Jalan Kusuma Bangsa itu bisa menjadi ikon bagi Surabaya. Setidaknya sebagai kawasan terintegrasi dengan aktivitas ekonomi dan seni. Tujuannya, membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat berekspresi.

’’Untuk jangka panjang, pemkot tidak bisa bergerak sendiri. Hal ini bakal melibatkan investor untuk bekerja sama. Bisa sebagian atau mengelola keseluruhan. Saat ini sudah ada investor yang berminat masuk,’’ kata Ira.

Soal bagaimana penawaran yang diberikan, Ira menyebut pihaknya masih membahas bersama investor tersebut. ’’Kami masih berdiskusi dan ingin mendengar program apa yang mereka tawarkan dan inginkan,’’ ucapnya.

Meski sudah ada calon peminat, Ira mengatakan bahwa pintu penawaran masih dibuka lebar. Selama belum ada komitmen utuh, pemkot mempersilakan siapa saja yang berminat untuk datang. Yang paling penting, menurut dia, adalah memiliki kesamaan visi dalam menghidupkan lagi kompleks tersebut. ’’Siapa pun itu silakan datang dan paparkan programnya,’’ ucapnya.

Dihubungi kemarin (23/5), seniman dari bidang film Sol Marida mengatakan, pemkot perlu melibatkan seluruh seniman untuk menentukan nasib TRS. Tidak terkecuali seniman di bidang film. ’’Saya melihat belum ada di Surabaya ini satu tempat yang mewadahi banyak seni. Sebetulnya tidak harus semua seni, paling tidak banyak seni,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Meimura, pelaku seni ludruk. Dia mengungkapkan, pembangunan TRS sudah menjadi janji yang diutarakan Wali Kota Eri Cahyadi saat pilwali 2019. Dia menyebutkan, para seniman, khususnya seniman ludruk, menunggu realisasi tersebut. Pemkot bisa memperbanyak sanggar seni untuk tempat berproses para seniman. ’’Saya yakin pemkot bisa,” katanya.

Pastikan Rencana, Dewan Panggil Pemkot


HINGGA kemarin (23/5), Taman Remaja Surabaya (TRS) masih tertidur. Puing-puing sisa bangunan yang dirobohkan tampak berserakan. Pusat hiburan sekaligus kesenian itu menunggu untuk dibangunkan kembali. Tentunya dengan suasana yang berbeda.

Wakil Ketua DPRD Surabaya A. Hermas Thony mengatakan, pihaknya mengusulkan untuk memanggil pemkot terkait penentuan wajah TRS ke depan. Dalam pertemuan dengan pemkot, legislatif juga akan mengundang para konsul jenderal yang ada di Surabaya. ’’Ada Slovakia yang di Samator, lalu ada juga Jepang, misalnya,” tuturnya.

Menurut dia, pertemuan tersebut diadakan sebagai upaya melahirkan kolaborasi antara Surabaya dan dunia internasional.

Politikus Gerindra itu menilai TRS tidak hanya berpotensi menjadi pusat kebudayaan atau kesenian di Surabaya. Lebih dari itu, Thony menyebutkan, TRS bisa membuat pendapatan asli daerah (PAD) Surabaya menggemuk.

Dengan catatan, wajah TRS tak boleh sama seperti dulu. Dengan begitu, ke depan ada pertunjukan komersial atau nonkomersial. ’’Kalau pemkot sulit menemukan investor atau pihak ketiga, kami siap membantu untuk mencarikan,” katanya.

Thony menyatakan, TRS berada di kawasan strategis. Dekat dengan makam penyair dan pembuat lagu W.R. Supratman, Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel, serta kawasan balai kota. Karena itu, Thony mengusulkan ludruk dan W.R. Supratman menjadi ikon TRS.

Thony menambahkan, TRS juga bisa menjadi wadah pusat pertukaran budaya. Baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Karena itu, dia meminta pemkot memberikan ruang pada semua jenis seni di Surabaya. ’’Surabaya ini kan majemuk. Jadi, bagaimana caranya beragam kebudayaan dari banyak tempat bisa diwadahi di TRS,” imbuhnya.

Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono berharap TRS bisa dihidupkan menjadi ikon kesenian dan kebudayaan di Surabaya. Sekaligus, lanjut dia, menjadi destinasi rekreasi dan pertunjukan masyarakat. Menurut dia, Surabaya membutuhkan ruang-ruang publik yang terbuka dan menjadi ajang mengasah kreativitas sekaligus hiburan warga kota. ’’Di masa lalu, TRS menjadi salah satu ikon tempat berkesenian. Itu harus digelorakan lagi,” tuturnya.

Politikus PDI Perjuangan itu menyatakan, anak-anak muda yang mempunyai hasrat tinggi untuk berkesenian, berbakat, dan berkebudayaan perlu mendapatkan tempat yang laik. Begitu pula kesenian tradisional, lanjut Adi, harus memiliki tempat untuk pentas.

Terpisah, Juliana Evawati selaku anggota komisi D mengungkapkan, TRS harus bisa mewadahi semua jenis seni. Termasuk seni tradisional dan modern. Baik di bidang perfilman, teater, modern dance, maupun seni tradisional. ’’Jadi, perlu ada kolaborasi seni modern dan tradisional,” tutur anggota legislatif yang mantan Ning Suroboyo itu.

MENYONGSONG MASA DEPAN SENI DI SURABAYA

- Hi-Tech Mall, TRS, dan Kampung Seni Srimulat bakal disulap menjadi kompleks seni.

- Gedung Hi-Tech Mall rencananya dikonsep mixed-use untuk berdagang dan aktivitas publik.

- TRS bakal menjadi ruang publik untuk ekspresi diri, seperti adanya panggung terbuka.

- Kejayaan Kampung Seni Srimulat bakal dikembalikan seperti dulu.

- Baru satu investor yang berminat untuk mengembangkan kompleks itu.

- Pemkot masih menunggu penawaran dan konsep pengelolaan dari investor lain.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore