Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Januari 2022 | 18.51 WIB

3 Penyebab Kemacetan di Surabaya Versi Polisi

MACET PANJANG: Deretan kendaraan antre di Jembatan Suramadu untuk masuk ke Surabaya. Kendaraan yang melintas didominasi mobil pribadi. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos) - Image

MACET PANJANG: Deretan kendaraan antre di Jembatan Suramadu untuk masuk ke Surabaya. Kendaraan yang melintas didominasi mobil pribadi. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Teddy Chandra menjelaskan Kota Surabaya memiliki 3 penyebab kemacetan. Namun, penyebab kemacetan itu seharusnya tak menjadikan Surabaya sebagai kota paling macet di Indonesia menurut lembaga survei Inrix.

Penyebab kepadatan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan Surabaya adalah aktivitas warga. Pada pagi hari macet terjadi ketika masyarakat mulai beraktivitas. Teddy, sapaannya, menyebut Surabaya merupakan ibu kota provinsi. Sehingga keluar masuk kendaraan para pekerja dari dalam maupun luar kota terjadi di Surabaya.

“Ada masyarakat dari luar Kota Surabaya, tentunya terjadi peningkatan volume ketika pagi hari dan pada sore hari saat mereka pulang kerja. Kemudian secara situasional ketika di ruas jalan tersebut terdapat kegiatan yang bersifat insidentil (aksi unjuk rasa),” katanya pada Sabtu (15/1).

Penyebab kedua adalah faktor cuaca. Tingginya curah hujan dan terjadinya genangan air menyebabkan kendaraan melambatkan laju kecepatan. Alhasil, muncul antrian yang panjang. Namun, kemacetan yang terjadi di Kota Surabaya, tidak membuat arus lalu lintas menjadi terhenti. Teddy menyebut kendaraan tetap bisa bergerak.

“Ketiga adalah jumlah traffic light yang ada di Kota Surabaya dan bidang jalur kereta api juga bisa menjadi hambatan. Tetapi pantauan kami selaku petugas di lapangan, lalu lintas Kota Surabaya masih masuk kategori aman dan lancar,” ujarnya.

Ia memastikan Polrestabes Surabaya setiap hari terus melakukan pengaturan, penjagaan, dan patroli di bidang lalu lintas. Dengan melakukan pemetaan waktu, Teddy dan jajarannya pun bisa mengetahui peningkatan volume kendaraan di ruas jalan tertentu.

“Secara aplikatif kami akan menugaskan personel dan mempertebal personel bila terjadi kemacetan di suatu titik di Kota Surabaya. Untuk Kota Surabaya berdasarkan tugas kami di bidang lalu lintas, arus lalu lintas bersifat situasional,” ujar dia.

Sementara itu, Pakar Laboratorium Transportasi Institut Teknologi Sepuluh (ITS) Nopember Surabaya Wahyu Herianto mengaku heran dengan hasil kesimpulan survei tersebut. Bila survei yang dilakukan pada tahun 2021, maka ada 2 catatan penting. Yaitu survey dilakukan saat pandemi dan ketika penggunaan angkutan umum kurang maksimal.

“Sebetulnya melalui aplikasi Maps akan memudahkan para pengguna untuk memantau kepadatan lalu lintas. Semoga di masa depan bila angkutan umum semakin banyak, maka pengguna kendaraan pribadi bisa beralih atau pindah ke angkutan umum,” kata dia.

Berdasarkan kepadatan lalu lintas sebelum dan sesudah pandemi Covid-19, level service di Kota Surabaya menunjukkan pada kategori C. Artinya, cukup bagus, padahal sebelum pandemi Kota Surabaya berada pada kategori D yang berarti relatif macet.

“Jika survei dilakukan pada saat pandemi, artinya belum normal bila kita semua tidak berupaya agar pengendara kendaraan pribadi itu beralih ke angkutan umum, maka akan terjadi Surabaya semakin macet,” pungkasnya.

Di sisi lain, Pakar Laboratorium Transportasi Institut Teknologi Sepuluh (ITS) Nopember Surabaya, Hera Widyawati menjelaskan bahwa dirinya sempat mencoba menghubungi lembaga survey tersebut. Namun, tidak ada jawaban.

“Perhitungannya adalah selisih gate (gerbang) antara pada waktu macet dan tidak macet. Jadi kalau macetnya pendek, maka gate-nya banyak, kalau melihat dari itu akan susah,” jelas dia.

Padahal, seharusnya menurut Hera, kemacetan yang terjadi di Kota Surabaya adalah pada waktu tertentu saja. Salah satu indikator untuk melihat kemacetan adalah GPS anonim.

“Dulu kami memiliki ide, bahwa untuk melihat suatu kepadatan jalan adalah menggunakan big data yang diambil dari mobile atau dari provider. Kemudian yang tidak bisa terdeteksi adalah jenis kendaraan,” katanya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore