Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Juli 2021 | 03.31 WIB

Sesalkan Penolakan Tempat Isolasi, Camat Gubeng Akan Terus Berjuang

Spanduk penolakan dipasang di depan SDN Barata Jaya oleh warga yang melakukan demonstrasi. Rafika Yahya/JawaPos.com - Image

Spanduk penolakan dipasang di depan SDN Barata Jaya oleh warga yang melakukan demonstrasi. Rafika Yahya/JawaPos.com

JawaPos.com–Plt Camat Gubeng Dedik Irianto menyayangkan penolakan warga atas dibangunnya tempat isolasi Covid-19 di SDN Barata Jaya. Dia menegaskan sosialisasi dan pendekatan akan terus dilakukan.

”Situasi darurat. Kami harus pakai gedung itu untuk isolasi,” tegas Dedik pada Jumat (23/7).

Dedik yang juga Kepala Dinas Pemadam kebakaran (PMK) itu mengaku sudah mengajak bertemu ketua RW 1–6 di Kelurahan Barata Jaya pada Rabu (22/7) malam. Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan keluhannya.


”Salah satu keluhannya karena pemukiman padat. Dibandingkan SDN Airlangga, SDN Barata Jaya masih gede. Jalannya lebar,” jelas Dedik.

Dedik menyampaikan pada warga bila Amdal berjarak lebih dari 1–2 meter, maka aman. Bahkan jaraknya juga jauh.

”Gedung Isoman itu sebenarnya kayak di rumah. Cuma ini lebih terpusat. Itu yang masuk bukan orang yang sakit. Tapi OTG (orang tanpa gejala), sehat tapi positif,” ujar Dedik.

Beberapa keluhan yang disampaikan warga adalah takut trauma dan imun turun karena ambulans. ”Saya tegaskan kalau sirine dan lampu ambulans akan dimatikan. Mobil operasional bisa digunakan,” kata Dedik.

Pada pertemuan itu, dia menjelaskan, penggunaan gedung itu untuk menyelamatkan warga Barata Jaya saja. Khusus warga kelurahan setempat bukan kelurahan lain.

Secara prinsip, lanjut Dedik, warga bilang takut psikologisnya kena. Dedik memastikan akan terus melakukan pendekatan. ”RT 3 saja yang memprotes. RT lain sudah memahami,” terang Dedik.

Menurut dia, hal itu terjadi karena konsekuensi geografis. Saat masa penerimaan peserta didik baru atau PPDB, warga diuntungkan. Yang dekat diterima tanpa ongkos transportasi.

”Saat ini, negara butuh gedung itu untuk isolasi. Saya bilang, tolong dong warga kalau setuju sudah jadi sumbangsih. Yang lain jungkir balik memutus mata rantai. Persetujuan warga adalah menyelamatkan seluruh warga Barata Jaya. Saya berharap warga bisa terbuka hatinya dan bisa menerima. Itu bukan rumah sakit. Tapi rumah isoman. Nggak ada alat medis oksigen dan lainnya. Nanti kalau pasien butuh darurat medis, kami bawa ke RSLT atau RS Soewandhie,” ucap Dedik.

Sebelumnya, Warga RT 03 RW 05 Kelurahan Barata Jaya, Kecamatan Gubeng, melakukan demo di depan SDN Barata Jaya VIII/43. Warga menolak tempat tersebut untuk dijadikan lokasi isolasi mandiri.

Demonstrasi itu dilakukan pada Jumat (23/7), menyusul rencana Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk membuka layanan tersebut.

Ketua RT 03 RW 05 Barata Jaya Imam Setyono mengaku kecewa dengan keputusan itu. Kebijakan tersebut tidak memikirkan kondisi warga. ”Warga takut dan khawatir virus Covid-19 akan menyebar lebuh masif pada masyarakat,” tutur Imam.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore