
Pedagang kulit ketupat musiman menyelesaikan pembuatan kulit ketupat yang dijual di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (12/5/2021). Permintaan kulit ketupat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H yang dijual sekitar Rp14.000 per 10 buahnya mengalami peningkat
JawaPos.com–Lebaran merupakan momen yang dinanti masyarakat muslim. Sebab, biasanya sanak keluarga akan berkumpul dan menjadi ajang silaturahi. Hidangan khas saat Idul Fitri adalah bersantap memakan ketupat. Bahkan di beberapa tempat dikenal dengan tradisi Lebaran ketupat yang dirayakan satu minggu setelah 1 Syawal.
”Ketupat itu sebagai bentuk pernyataan bahwa orang yang telah menjalani puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Juga untuk ungkapan perayaan Lebaran,” ungkap Muhammad Khodafi, salah satu dosen Sejarah Peradaban Islam Universita Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Bentuk ketupat seperti bangun belah ketupat tiga dimensi. Terbuat dari anyaman janur (daun kelapa yang masih muda). Ketupat diisi beras kemudian dimasak. Biasanya disajikan dengan kuah opor.
”Ketupat ini terkenal di kalangan masyarakat Jawa, juga di daerah lain nusantara, hingga Malaysia, Singapura, dan Filipina,” sebut Khodafi.
Dia menjelaskan, dari beberapa cerita, ketupat pada awalnya diperkenalkan Sunan Kalijaga. Sebagai salah satu metode penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Demi menarik hati masyarakat Jawa pada waktu itu, Raden Said atau Sunan Kalijaga mengadakan beberapa perayaan yang bersentuhan dengan masyarakat Jawa, salah satunya Lebaran ketupat.
”Orang Jawa bilangnya Kupatan. Nah, Sunan Kalijaga memberi makna tersirat. Konon secara bahasa, maknanya itu kulo lepat (kesalahan saya). Makanya ada pemeo dalam masyarakat Jawa kupat santen artinya kulo lepat nyuwun ngapunten (kesalahan saya mohon dimaafkan),” tutur Khodafi, yang juga menjabat sebagai kepala Jurusan SPI tersebut.
Tak hanya sebagai ungkapan permintaan maaf, Lebaran ketupat juga memiliki banyak makna, Khodafi menyebut ada unsur 4 kemanusiaan di dalamnya. Yakni selesai menjalani puasa, lalu sebagai sedekah, kemudian mengakui kesalahan dan dengan tulus meminta maaf. Yang terakhir penyucian diri agar terlahir kembali.
”Lebaran itu bukan hanya lahir sosial tapi juga spiritual,” terang Khodafi.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
