Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Juli 2020 | 18.00 WIB

Surabaya Masih Peringkat Satu, Jatim Butuh Aturan Lebih Tegas

INGATKAN WARGA: Rambu wajib memakai masker dan menjaga jarak dipasang di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, kemarin. (Allex Qomarulla/Jawa Pos) - Image

INGATKAN WARGA: Rambu wajib memakai masker dan menjaga jarak dipasang di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, kemarin. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

JawaPos.com – Upaya penanganan virus korona di Jawa Timur benar-benar menguras energi. Virus yang diketahui menyebar kali pertama di Wuhan, Tiongkok, itu bahkan telah menembus tembok perkantoran pemerintah di Surabaya. Lebih dari seratus pegawai terinfeksi virus tersebut. Beberapa pejabat bahkan meninggal dunia.

Satu-satunya jalan untuk menghentikan persebaran virus korona adalah menaati protokol kesehatan secara disiplin. Karena itu, jika ingin Surabaya bebas dari korona, arek Suroboyo harus lebih disiplin. Pakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan.

Tadi malam, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jatim Rudy Ermawan Yulianto berpulang karena terpapar Covid-19. Rudy dikabarkan terpapar Covid-19 setelah orang tuanya meninggal pada akhir Juni lalu. Pejabat 50 tahun itu memiliki penyakit penyerta diabetes.

Sehari sebelumnya, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Pemkot Surabaya Chandra Oratmangun juga meninggal. Chandra sempat positif Covid-19 berdasar hasil swab test. Namun, almarhumah akhirnya dinyatakan negatif berdasar hasil swab test terakhir.

Hingga kemarin, Surabaya memang masih menjadi kota dengan kasus kematian pasien korona terbanyak (lihat grafis). Itu sesuai dengan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB membagi daerah menjadi empat kategori. Yakni, daerah tanpa angka kematian, daerah dengan kematian satu orang, daerah dengan kematian 2 hingga 10 orang, dan di atas 10 orang.

Di setiap kategori ditunjukkan persentasenya. Kategori tanpa kematian mencapai 51,8 persen atau setara 266 kabupaten dan kota. Lalu, ada 17,3 persen dengan angka kematian 1 orang dan 20,8 persen untuk daerah dengan kematian 2 hingga 10 orang. Kategori terakhir 10,1 persen.

BNPB lalu mengolah data jumlah kematian per 100 ribu penduduk. Pada hitungan tersebut, Kabupaten Sidoarjo tidak tampil. Sebaliknya, Kota Surabaya tetap berada di posisi teratas. Yakni 22,07 per 100 ribu penduduk yang meninggal.

Pakar epidemiologi Unair Dr Windhu Purnomo mengatakan, data tersebut merupakan kritikan untuk wilayah Surabaya Raya. Jumlah kematian paling tinggi bukan prestasi. Idealnya, tim gugus tugas dan pemerintah daerah mengambil langkah tegas. ’’Salah satunya dengan menangani permasalahan di hulu,’’ tuturnya.

Saat ini perilaku masyarakat belum menunjukkan waspada terhadap Covid-19. Masih ada kerumunan. Banyak yang tidak mengenakan masker. Padahal, wabah masih melanda. ’’Kalau dibiarkan, angka penularan akan tetap tinggi,’’ ujarnya.

Setelah tertular, hanya ada dua kemungkinan. Sembuh atau meninggal. Pasien dengan penyakit penyerta sangat riskan. Peluang untuk sembuh sangat kecil. Penyakit penyerta bisa mengakibatkan pasien drop dan meninggal.

Doktor Windhu berharap pemerintah memiliki aturan tegas untuk mewujudkan disiplin di masyarakat. Langkah pemerintah provinsi menyusun perda sangat positif. ’’Harapannya lekas selesai dan bisa diterapkan,’’ ucapnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=W8FebjrnM00

 

https://www.youtube.com/watch?v=Uz1ypfMAb_c

 

https://www.youtube.com/watch?v=WdXxerlZVos

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore