Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 April 2020 | 03.48 WIB

Cerita Petugas Pengantar Jenazah Korban Covid-19 di Surabaya

ANTAR KE PERISTIRAHATAN TERAKHIR: Petugas memakamkan jenazah pasien Covid-19 di TPU di Surabaya Timur. Mereka mematuhi protokol yang ditetapkan. (Frizal/Jawa Pos) - Image

ANTAR KE PERISTIRAHATAN TERAKHIR: Petugas memakamkan jenazah pasien Covid-19 di TPU di Surabaya Timur. Mereka mematuhi protokol yang ditetapkan. (Frizal/Jawa Pos)

Mereka pahlawan kemanusiaan. Tugas mereka berhadapan dengan korban meninggal akibat Covid-19. Tanpa mereka, korban yang berpulang itu tidak bisa sampai ke tempat peristirahatan terakhir. Seperti apa kisahnya?

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Surabaya

Para petugas yang menangani jenazah yang terpapar Covid-19 harus selalu waspada, hati-hati, dan menjaga diri. Semua dilakukan dengan disiplin yang tinggi. Setidaknya agar tidak tertular virus mematikan yang sudah menewaskan 52 orang di Surabaya hingga kemarin siang (27/4). Jumlah itu terdiri atas 50 pasien terkonfirmasi positif dan 2 pasien dalam pengawasan (PDP).

Apalagi saat awal pandemi Covid-19 melanda Surabaya pertengahan Maret lalu. Korban meninggal kali pertama ditangani pada awal April. Karena serbapertama, tingkat stres dan kekhawatiran para petugas itu berlipat-lipat.

Kepala Seksi Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Surabaya Edi Siswanto merupakan salah seorang petugas yang punya pengalaman pertama dalam penanganan jenazah terjangkit Covid-19. Dia sekaligus menjadi koordinator untuk 44 petugas dari dinsos. Para petugas tersebut berbagi peran menjadi sopir mobil jenazah, bagian evakuasi, petugas penyemprotan disinfektan, dan satu orang bagian dokumentasi. ”Awal-awal dulu ya ada rasa takut. Karena ini kan penyakit menular. Tapi bagaimanapun, kan harus ada yang menangani,” jelas Edi Selasa lalu (21/4).

Dia masih ingat betul saat ikut menangani jenazah pada 2 April lalu. Jenazah tersebut diambil dari sebuah rumah sakit swasta. Lalu, jenazah diantarkan ke tempat pemakaman umum di Surabaya Timur.

Pada awal penanganan tersebut, memang hanya sedikit yang berani mendekat. Rasa takut mereka begitu tinggi. Apalagi Covid-19 adalah hal yang baru.

Bahkan, disebut-sebut sangat mudah menular melalui cairan.

Baju yang dipakai berlapis-lapis. Selain baju pelindung diri, juga ada sarung tangan dari lateks, face shield, hingga sepatu bot. Dengan semua peralatan pengamanan itu, masih perlu satu hal, nyali. ”Kami mengambil peran itu,” ujar Edi.

Dalam rangkaian pengantaran jenazah ke makam itu, ada dua mobil. Mobil pertama berisi jenazah, sopir, dan dua petugas evakuasi. Di mobil kedua, ada petugas yang membawa peralatan untuk penyemprotan disinfektan serta seorang lagi bagian dokumentasi. ”Selama memindahkan peti jenazah itu, selalu disemprot cairan disinfektan. Sampai di lubang kubur juga,” ungkap Edi.

Tim dari dinsos memang tidak sampai ikut menggali liang lahad. Ada petugas pemakaman dari dinas kebersihan dan ruang terbuka hijau (DKRTH) yang menyiapkan liang lahad. Bahkan, disediakan satu ekskavator kecil untuk mempercepat penggalian lubang kubur.

Jangan tanya bagaimana suasana pemakaman itu! Sepi. Tidak boleh ada keluarga almarhum yang mengantar. Tidak boleh ada orang yang mendekat.”Setelah pemakaman awal itu, semua baju langsung dikumpulkan dan dibakar. Waktu itu, memang kami mengira itulah cara agar tak ada satu virus pun yang hidup,” jelas Edi. Para petugas tersebut juga langsung mandi dan keramas di dekat tempat pemakaman umum.

Pemakaman pertama itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi mereka. Evaluasi dilakukan. Termasuk membuat protokol yang sebaik-baiknya dan seaman-amannya. Mereka berdiskusi kecil untuk membuat pekerjaan mulia tersebut juga aman bagi keluarga.

”Baju APD atau baju hazmat, misalnya, baru dipakai saat jenazah sudah siap untuk diberangkatkan. Lha, sebelumnya keringetan banget karena dipakai beberapa jam sebelumnya,” kata dia.

Tidak hanya itu, ternyata juga ada tata cara pemakaian baju hazmat agar bisa digunakan lagi. Baju tersebut dibuat dari bahan khusus sehingga bisa digunakan lebih dari sekali.

”Kalau sekarang begitu selesai, baju itu dikumpulkan dalam kresek. Diberi cairan disinfektan, lantas direndam sampai dua jam atau lebih baru setelah itu dicuci. Dengan begitu, bisa dipakai lagi. Kami konsultasikan itu dengan teman-teman di kesehatan,” ungkap dia.

Sekarang para petugas itu relatif lebih berani saat menangani jenazah terkait dengan Covid-19. Sebab, mereka sudah mengetahui tata laksana penanganan jenazah tersebut.

Namun, suatu saat mereka harus menangani jenazah yang meninggal di rumah. Bukan di rumah sakit setelah mendapatkan pengananan kesehatan. Para petugas pun mendapatkan tantangan baru karena biasanya mereka menangani jenazah yang sudah dibungkus kain kafan, plastik, dan dimasukkan ke peti.

”Waktu itu, ada yang meninggal di rumah. Diduga kuat karena Covid-19. Petugas harus hati-hati memasukkan jenazah ke dalam kantong,” ungkap dia.

Ada pula tantangan saat keluarga besikeras meminta agar jenazah Covid-19 itu dimakamkan di makam kampung. Para petugas pun harus berkoordinasi dengan banyak pihak agar tidak ada kasus penolakan. Polisi dan TNI dilibatkan dalam penanganan tersebut.

”Ada yang berstatus PDP. Dia akhirnya dimakamkan di Kecamatan Wiyung atas permintaan keluarga,” ungkap dia. Namun, semua itu juga tetap dengan protokol penanganan penyakit menular.

Suatu ketika, ada seorang petugas yang bersin tak berselang lama dari proses pemakaman jenazah. Muncul ketakutan dan kekhawatiran. Petugas tersebut lantas diminta untuk segera diperiksa dan diberi obat. ”Alhamdulillah, ternyata pilek biasa,” kata Edi, lantas tersenyum. Itu kabar yang melegakan.

Yang juga dikhawatirkan adalah keluarga di rumah. Dalam diskusi para petugas tersebut, muncul beragam cerita untuk protokol sebelum masuk rumah. ”Ada yang disediakan bak, mandi di luar rumah,” ungkap Edi. ”Termasuk saya juga mandi di luar rumah,” imbuh dia. Semua itu demi berjaga-jaga agar penularan tidak sampai ke rumah dan kena kepada anggota keluarga.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=cuAGHZGzmlE

https://www.youtube.com/watch?v=zuXbEWEFZek

https://www.youtube.com/watch?v=R-g-cgT_rDc&t=

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore