Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Maret 2020 | 00.39 WIB

Cerita Keberanian Komjen Pol M. Jasin dan Usulan Perubahan Nama Jalan

KOTA LAMA: Jalan Veteran di depan Mapolrestabes Surabaya diusulkan berubah nama menjadi Jalan Komjen Pol M. Jasin. (Guslan Gumilang/Jawa Pos) - Image

KOTA LAMA: Jalan Veteran di depan Mapolrestabes Surabaya diusulkan berubah nama menjadi Jalan Komjen Pol M. Jasin. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

Nama Jalan Raya Menganti batal diubah menjadi Jalan Komjen Pol Moehammad Jasin. Mabes Polri menilai nama pahlawan tersebut tidak cocok ditempatkan di kawasan Wiyung dan Babatan. Mana saja titik jalan yang cocok dengan kisahnya?

SALMAN MUHIDIN – EDI SUDRAJAT, Surabaya

Hampir semua kekuatan Jepang di Surabaya sudah ditaklukkan. Senjata-senjata dilucuti. Tinggal satu yang belum. Gedung Kempetai. Bekas gedung pengadilan yang dibangun Belanda itu dijadikan markas oleh para tentara elite Jepang.

Arek-arek Suroboyo yang tak punya rasa takut menyerbu gedung yang kini menjadi Tugu Pahlawan tersebut. Itulah benteng pertahanan Jepang yang dianggap simbol kebengisan dan kesewenang-wenangan. Setiap kali ada yang mendekat, tentara Jepang memberondong mereka dengan tembakan mitraliur atau senapan mesin.

Jenazah para pejuang berserakan di depan gedung. Melihat banyaknya korban berjatuhan, arek-arek Suroboyo tidak mundur. Mereka malah semakin maju mendekati benteng. M. Jasin tidak mau korban semakin banyak Tanpa mempertimbangkan risiko terkena peluru, dia menerobos masuk ke markas Kempetai.

”Ketika itu, saya menyaksikan tentara Jepang tetap siaga dalam posisi tegak atau orisiki pada bagian sisi kiri jalan masuk. Di antara pasukan Jepang itu, ada juga yang tergeletak tewas, sementara yang lainnya tetap tegak tanpa gentar. Sungguh luar biasa tingkat kedisiplinan mereka,” tulis Jasin dalam memoarnya: Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang, Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia.

Setelah berhasil masuk ke area gedung Kempetai, seorang opsir Kempetai meminta dirinya menemui Opsir Takahara.

Jasin yang juga mendapatkan gelar Bapak Brimob mengenal Takahara bersaudara. Satu orang bekerja sebagai penerjemah bahasa Jepang, satu lagi anggota Kempetai. Di pintu masuk seorang tentara menempelkan bayonet ke punggung Jasin dan Soeprapto yang diam-diam mengawalnya.

”I’d like to meet Takahara San (Saya ingin bertemu Takahara San, Red),” ujar Jasin. Dua prajurit itu menggiringnya ke dalam gedung untuk bertemu mayor Kempetai yang bisa berbahasa Inggris. Takahara bersaudara lalu bertanya apa maksud kedatangannya. Jasin meminta Kempetai segera menyerah. Dia akan bertanggung jawab.

Takahara lantas mempertemukan Jasin dengan komandan Kempetai. Mereka memperkenalkan Jasin sebagai Tokubet su Keisatsutai Tyo alias komandan Polisi Istimewa.

Sang komandan Kempetai bertanya dengan nada membentak, Mau apa?” Takahara menerangkan maksud kedatangan Jasin. Namun, komandan Kempetai itu malah kebingungan dan merasa aneh. Tanpa banyak bicara, dia memanggil kepala stafnya untuk membicarakan tawaran dari Jasin tersebut.

Dalam kesempatan itu, Jasin memanfaatkannya untuk mengambil sapu tangan putih dari kantongnya. Dia ikatkan ke pergelangan sang komandan Jepang dan melambaikan tangannya seolah mengibarkan bendera putih. Tampaknya, sang komandan tidak bereaksi dan malah mengikuti arahan Jasin. ”Saya sendiri merasa heran kenapa komandan itu menurut saja, padahal saya tidak memberikan ancaman,” lanjut Jasin.

Lambaian sapu tangan putih itu terlihat oleh para pejuang di luar markas. Mereka menafsirkan misi Jasin berhasil. Tanda tersebut dianggap sebagai isyarat untuk merampas senjata Kempetai. Namun, pasukan Kempetai yang tidak tahu hasil perundingan di dalam gedung kembali melepaskan tembakan yang memaksa pejuang kembali berlindung.

Usulan Jasin disambut positif para perwira Kempetai. Jasin diantar keluar dengan dikawal prajurit. Dia dan rekannya berlari sekuat tenaga ke arah serambi kantor gubernur. Para pejuang menghentikan perlawanan karena mengira perundingan masih berjalan.

Tak lama kemudian, Takahara tua keluar gedung untuk menurunkan bendera Jepang. Para pejuang pun meluapkan kegembiraannya dengan bergegas menuju tiang bendera dan mengibarkan Merah Putih sembari berteriak, ”Merdeka!”

Kisah perebutan gedung Kempetai itu juga ditulis di buku berjudul Surabaya, di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? karya penulis muda Ady Setyawan dan Marjolein van Pagee.

Kisah kecerdikan dan keberanian M. Jasin itu beberapa kali ditampilkan dalam drama teatrikal. Komunitas Roodebrug Soerabaia yang digagas Ady turut ambil bagian dalam pertunjukan itu. Kisah pertempuran M. Jasin banyak terjadi di kawasan Kota Lama Surabaya di Surabaya Utara dan pusat kota. Maka, nama M. Jasin kurang cocok jika ditempatkan di Jalan Raya Menganti di Surabaya Barat. ”Memang kalau di Jalan menganti kurang cocok,” katanya kemarin (28/2).

Ady mengusulkan sejumlah titik yang pas untuk dinamai Jalan M. Jasin. Menurut dia, penamaan jalan di dekat polrestabes kurang pas. Ady melanjutkan, ada titik yang lebih cocok. ”Di area Penjara Koblen karena di memoarnya beliau sering cerita di sana. Atau di dekat Monumen Polri di Jalan Polisi Istimewa,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

Jasin sering membawa pasukannya berlatih di sekitar Penjara Koblen. Bahkan, di sanalah dia bertemu dengan jodohnya. ”Sampai-sampai pasukannya bilang, pantas kok sering dilewatkan sini,” kata dia.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho buka suara soal usulan Jalan Komjen Pol M. Jasin. Menurut dia, penamaan jalan itu lebih tepat ditempatkan di depan mapolrestabes. ”Kami sudah mengirim permohonan kepada pihak terkait. Harapan kami bisa disetujui,” tuturnya.

Sandi menuturkan bahwa permohonan itu adalah upaya untuk mengenang perjuangannya. Terlebih saat perang 10 November 1945. Dia menyebut perjuangan pada masa itu tidak bisa dilepaskan dari sosok M. Jasin. ”Beliau adalah komandan Polisi Istimewa,” jelasnya.

M. Jasin dan pasukannya, kata Sandi, menjadi salah satu kunci sukses memenangi perang. Pada saat kebanyakan pejuang hanya bermodal bambu runcing, Polisi Istimewa melakukan perlawanan dengan modal senjata hasil rampasan dari Jepang.

Lulusan terbaik Akpol 1995 tersebut menambahkan, markas Polisi Istimewa di era itu adalah mapolrestabes saat ini. Dulu namanya Hoofdbureau van Politie te Soerabaia atau Biro Besar Polisi di Surabaya. ”Makanya, menurut kami, lebih tepat nama jalannya di depan polrestabes,” ujarnya.

Sandi memaparkan, upaya untuk mengenang perjuangan M. Jasin itu bukan kali pertama dilakukan. Mapolrestabes, kata dia, juga punya ruangan khusus yang diberi nama M. Jasin. Letaknya di gedung Hoofdbureau yang menjadi ikon polrestabes. ”Difungsikan untuk rapat koordinasi dengan menerima tamu,” kata perwira dengan tiga melati di pundak tersebut.

Kabid Tata Bangunan Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) Lasidi mengatakan bahwa pemkot akan menerima masukan dari Polri. Saat ini pihaknya menunggu surat resmi beserta kajian usulan baru itu. ”Jadi, nanti dibahas lagi secara terpisah. Tidak dibarengkan dengan pansus yang sedang bekerja saat ini,” ujarnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore