
ONGKOSNYA MURAH: Seorang warga menaiki angkot yang ngetem di depan Pasar Wonokromo, Rabu (18/9). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)
JawaPos.com – Berusaha bertahan dengan amunisi apa adanya. Seperti itulah anggapan pakar transportasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Machsus menilai kondisi angkot saat ini. ’’Banyak faktor yang menjadi penyebabnya,’’ ujarnya kemarin (26/10).
Pertama, kondisi armada yang kurang layak. Problem lainnya, banyak rute yang belum menyasar wilayah di Surabaya. Kalaupun ada, penumpang harus oper beberapa armada. ’’Akhirnya beban biaya penumpang jadi bertambah,’’ ucapnya.
Selain itu, waktu tunggu penumpang angkot lama. Padahal, lanjut dia, berdasar surat edaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub), waktu tunggu paling lama 10 menit. ’’Saat ini waktu ngetemnya bisa melebihi ambang batas tersebut. Ini membuat masyarakat enggan naik angkot,’’ tuturnya.
Solusinya, operator dan regulator harus bertemu. Dengan kata lain, pengelola jasa angkot dan dinas mempunyai wewenang untuk bisa duduk bersama. Machsus menyatakan, angkot merupakan masalah yang serius. ’’Jika dibiarkan, angkot bisa hilang,’’ paparnya.
Sebenarnya, pemkot punya modal besar untuk menghidupkan angkot yang mulai redup. Caranya, mengoneksikan angkot dengan moda transportasi lainnya. Suroboyo Bus, misalnya. ’’Kalau bisa terkoneksi, kan enak. Jadi, turun dari bus bisa naik angkot menuju lokasi,’’ ucap kepala Departemen Teknik Instruktur Sipil Fakultas Vokasi ITS tersebut.
Machsus juga menyarankan pembuatan sistem tiket terintegrasi. Contohnya, warga Benowo yang hendak ke Kenjeran. Mereka cukup membayar satu tiket untuk sampai ke lokasi. ’’Tapi juga harus ada kepastian jadwal keberangkatannya,’’ paparnya.
Mekanisme itu sebagaimana yang sudah berlangsung di negara maju. Di Malaysia dan Singapura, banyak warga yang justru menggunakan transportasi masal karena lebih murah. Kondisi tersebut berbeda dengan di Surabaya. ’’Ini tantangan besar bagi wali kota berikutnya,’’ jelasnya.
Dewan Pimpinan Cabang Federasi Serikat Pekerja Transnport Indonesia (F-SPTI) Moch. Subekti mengatakan, penurunan armada secara signifikan berdampak pada matinya trayek angkot di beberapa wilayah. ’’Ada 11 trayek yang kini sudah tidak lagi beroperasi,’’ paparnya kemarin siang (26/10).
Kalaupun angkot masih beroperasi, kata Machsus, kondisinya cukup memprihatinkan. Jika dibiarkan, mereka bisa gulung tikar. Karena itu, pihaknya berharap pemkot secepatnya memberikan kemudahan subsidi bantuan agar angkot tidak punah. ’’Salah satunya kemudahan dalam mengurus izin armada angkot yang sudah mati,’’ katanya. Karena itu, sopir juga membutuhkan wadah berupa koperasi. ’’Sebab, mengurus surat tidak boleh atas nama perseorangan,’’ lanjutnya.
Photo

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
