
Ilustrasi: air hujan. (pixabay)
JawaPos.com - Temuan kandungan mikroplastik pada air hujan di Kota Surabaya, belakangan menyita perhatian publik. Tak sedikit yang merasa was-was dan mempertanyakan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia.
Pakar Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (Unair), Dwi Ratri Mitha Isnadina mengatakan dalam jangka pendek, paparan mikroplastik tidak menimbulkan efek langsung terhadap tubuh manusia.
Meski tak berdampak langsung pada manusia, mikroplastik dinilai berbahaya bagi ekosistem karena mampu mengikat logam berat, serta berbagai polutan beracun yang berpotensi merusak lingkungan.
“Mikroplastik di air hujan akan mengalir sebagai limpasan menuju ekosistem. Di sana, mikroplastik bisa termakan biota ikan, dan pada akhirnya masuk kembali ke tubuh manusia lewat rantai makanan,” terang Dwi, Rabu (26/11).
Sejumlah studi ilmiah juga mengaitkan mikroplastik dengan risiko peradangan dan gangguan kardiovaskular, meskipun bukti ilmiah terkait dampak kesehatan pada manusia belum sepenuhnya dipastikan.
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair tersebut mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing dengan isu mikroplastik dalam air hujan yang viral, tanpa pemahaman yang memadai.
“Penting untuk memahami apakah fenomena ini benar-benar baru atau memang sudah terjadi sejak lama. Dengan literasi yang baik, kita bisa merespons informasi dengan lebih bijak," sambungnya.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, yang menjadi salah satu sumber mikroplastik.
"Perkembangan penelitian mikroplastik di Indonesia masih terus berjalan. Jika kelak mikroplastik menjadi fokus regulasi, maka parameter pengukurannya akan semakin jelas dan intensif," pungkas Dwi.
Sebagai informasi, hasil riset yang dilakukan Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Growgreen, River Warrior, dan Ecoton, menempatkan Surabaya di posisi ke-6 dengan kontaminasi 12 partikel per 90 cm² per 2 jam.
Penelitian tersebut dilakukan selama 11-14 Nopember 2025 di 7 lokasi, yakni kawasan Darmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.
Pada lima lokasi tersebut, peneliti menempatkan wadah aluminium, stainless steel dan wadah mangkok kaca dengan diameter 20-30 cm diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1-2 jam.
Dari grafik hasil penelitian, wilayah di Surabaya yang paling tercemar adalah Pakis Gelora dengan 356 partikel mikroplastik per liter, disusul Tanjung Perak pada posisi kedua dengan 309 PM/ liter.
Kemudian HR Muhammad dengan 135 PM/ liter, Wonokromo dengan 77 PM/ liter, Gununganyar dengan 66 PM per liter, Ketintang dengan 48 PM/ liter, dan Dharmahusada dengan 24 PM per liter. (*)

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
