
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Yusuf Masruh.
JawaPos.com–Sekitar 500 sekolah dasar (SD) di Kota Surabaya menyelenggarakan Unjuk Kerja dan Karya (UKK) secara serentak pada 19-20 Mei. UKK tahun ini mengambil tema kreatif, inovatif, mandiri, bekerja keras, dan sukses dunia dan akhirat. UKK diperuntukkan bagi siswa kelas VI dan dipusatkan di SDN Rangkah VI.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Yusuf Masruh mengatakan, kegiatan itu merupakan upaya memupuk kreativitas anak-anak di Kota Pahlawan. Dispendik tidak hanya membekali pelajar dengan sisi akademis, tapi juga non akademis.
”Kami ingin anak-anak Kota Surabaya mengembangkan seluruh talenta, bakat, dan minatnya, sesuai dengan yang dimiliki. Kami akan fasilitasi,” kata Yusuf Masruh.
Selain menjadi bagian pengembangan kreativitas, UKK merupakan implementasi Sekolahe Arek Suroboyo (SAS) yang sudah berjalan sejak 10 November 2022. Yusuf menjelaskan, program SAS memberikan pilihan kepada siswa untuk pengembangan pendidikan karakter.
”Sekolah-sekolah akan memfasilitasi sesuai dengan karakter masing-masing sekolah,” ujar Yusuf.
Kepala Bidang (Kabid) Sekolah Dasar (Sekdas) Dispendik Kota Surabaya Munaiyah menambahkan, ada sekitar 500 lembaga jenjang SD yang menyelenggarakan UKK. Masing-masing menampilkan produk UKK serta produk dari implementasi kurikulum merdeka bagi siswa kelas I sampai kelas IV.
”Selamat untuk seluruh anak-anak di Kota Surabaya,” ucap Munaiyah.
Hal yang sama juga disampaikan Kepala SDN Rangkah VI Rita Erwiyah. UKK merupakan hasil kolaborasi pihak sekolah dengan orang tua atau wali murid melalui komite.
”Acara ini diharapkan mampu memberikan bekal kepada seluruh anak-anak untuk terus inovatif,” ujar Rita Erwiyah.
Salah satu produk yang ditampilkan dalam UKK adalah ecoprint dari SDN Rangkah VI karya Cindy Aiszah, Zahra Almaira Firmansya, Keysa Azzara Asmita, dan Keyza Ayuni Putri Davina. Ecoprint merupakan pemindahan serat daun dan bunga ke atas permukaan kain.
Cindy Aiszah menjelaskan, tidak semua daun bisa digunakan untuk ecoprint. Sebab, ada beberapa daun yang tidak bisa keluar warnanya.
”Kami biasanya menggunakan daun jati, daun pepaya, serta daun kenikir. Daun ini bisa mengeluarkan warna di atas permukaan daun,” kata Cindy.
Menurut dia, proses pembuatan ecoprint berlangsung sekitar satu bulan. Daun yang terpilih diletakkan di atas kain kemudian dipukul-pukul menggunakan kayu sampai keluar warnanya. ”Warna yang keluar kemudian menempel pada kain yang dipersiapkan,” terang Cindy.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
