
Keluarga korban runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny ingin masuk dan membantu proses evakuasi, namun dihadang aparat kepolisian dan Banser. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto buka suara soal keluarga korban rubuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo yang ingin membantu proses evakuasi.
Banyak keluarga korban mengaku sudah gelisah menunggu kejelasan tentang nasib anak maupun mereka. Emosi mereka campur aduk seiring dengan ditemukannya satu per satu jenazah pada operasi hari keenam, Sabtu (4/10).
"Dalam setiap bencana kan ada saja pihak-pihak yang baru datang, dia melihat belakangan itu kok kurang banyak, kok kelihatannya gak bekerja, dia minta masuk," ujar Suharyanto di Sidoarjo, Sabtu (4/10).
Ia memahami kegelisahan yang dirasakan oleh keluarga korban. Namun, Suharyanto secara tegas melarang masyarakat untuk bertindak gegabah dan menyulitkan proses evakuasi yang dilakukan Tim SAR gabungan.
"Jangan kami disibukkan dengan hal-hal di luar pencarian, seperti tadi kurang percaya pada aparat, ingin mengambil sendiri, ini justru mengganggu proses pencarian yang sudah dilakukan semaksimal mungkin," imbuhnya.
Suharyanto menekankan bahwa prioritas utama tim SAR gabungan saat ini adalah melakukan pencarian dan penyelamatan korban, bukan melayani kegaduhan atau sikap tidak percaya dari pihak yang baru terlibat.
Sebelumnya, suasana tegang menyelimuti hari kelima operasi pencarian korban runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Jumat (3/10). Puluhan keluarga korban bersikeras untuk masuk ke area pondok.
Mereka ingin melihat proses evakuasi di dalam area Pondok Pesantren Al Khoziny secara langsung. Namun, keinginan mereka tidak disetujui oleh aparat polisi dan organisasi masyarakat Banser.
"Mohon maaf dulu, Bapak, ini di dalam banyak alat berat, berbahaya kalau panjenengan (anda) masuk ke dalam (area evakuasi). Kami hanya mengamankan," ujar salah seorang polisi menenangkan keluarga korban.
Alih-alih mereda, suasana di sekitar gerbang Pondok Pesantren Al Khoziny justru semakin panas. Keluarga korban mengaku sudah frustrasi menunggu kabar anak maupun kerabatnya ditemukan.
"Kami sudah sangat sabar pak, sudah lima hari (pencarian), saya bukan relawan, bukan reporter, saya kakak dari korban!" ujar salah seorang keluarga korban yang mengenakan jaket hijau army.
Ia mengaku sudah frustrasi karena adiknya belum ditemukan hingga hari kelima. Keluarga korban sudah pasrah dan hanya ingin anak maupun kerabatnya ditemukan segera, baik dalam kondisi hidup maupun tidak.
"Jangan memikirkan bahaya-bahaya, keluarga kami sudah ketimbun, udah hitam (Tidak ada tanda kehidupan) kok. Jadi ayok, kalau basarnas tidak bisa atau kurang maksimal, kami bantu dengan hati nurani," imbuhnya.
Kronologi Singkat
Bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di area Pondok Pesantren Al Khoziny, tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
