Ilustrasi dua orang berbincang menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa kini jadi muatan lokal wajib di Surabaya. (Wahyu Widiatmoko/Pexels)
JawaPos.com – Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi. Termasuk Bahasa Jawa yang oleh Pemkot Surabaya kini dijadikan muatan lokal wajib.
Lebih dari itu, bahasa ibu menjadi kunci penting dalam membangun identitas, menanamkan nilai budaya, sekaligus memperkuat ikatan emosional anak dengan keluarga.
Psikolog Klinik Ganesha Bayua Putra menekankan pentingnya pembiasaan bahasa daerah sejak dini bagi anak. Dalam hal ini termasuk Bahasa Jawa.
“Bahasa Jawa itu kaya nilai. Dari pilihan kata dan gaya tutur, anak belajar sopan santun, rasa hormat, dan empati. Ini bekal berharga untuk perkembangan sosial-emosional mereka,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, Pemerintah Kota Surabaya kini menerapkan kebijakan baru: Bahasa Jawa menjadi muatan lokal wajib dalam Kurikulum Merdeka wajib digunakan setiap hari Kamis dalam komunikasi di level SD dan SMP.
Program yang populer dengan sebutan “Kamis Berbahasa Jawa” ini diharapkan bisa memantik anak lebih akrab dengan bahasa daerahnya. Namun, Ganesha mengingatkan bahwa sekolah saja tidak cukup.
“Sekolah memulai, tapi rumah yang menentukan. Kalau di rumah anak tetap dibiasakan berbahasa Jawa, itu akan menjadi identitas yang mengakar,” tegasnya.
Orang tua bisa memulai dengan hal sederhana: menyapa anak dengan sapaan Jawa seperti “le” atau “nduk”, bercakap ringan dalam Bahasa Jawa, hingga membacakan dongeng rakyat.
Tidak harus sempurna atau fasih, yang penting konsistensi dan niat menghadirkan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa ibu juga menjadi penghubung penting antar generasi. Banyak anak kesulitan berkomunikasi dengan kakek-neneknya karena terbiasa hanya dengan Bahasa Indonesia atau asing.
“Kalau anak bisa ngobrol dengan embahnya pakai Bahasa Jawa, hubungan emosional mereka jadi lebih dekat. Anak merasa dimengerti, embah merasa dihormati,” ujar Ganesha.
Momen sederhana seperti mendengar dongeng dari embah atau bercanda dalam bahasa daerah bisa menjadi kenangan indah yang menumbuhkan rasa aman dan nyaman di rumah.
Meski penting, Ganesha mengingatkan agar pemakaian Bahasa Jawa tidak dipaksakan. “Kalau dipaksa, anak justru menolak. Bahasa ibu harus hadir dengan cara menyenangkan,” katanya.
Permainan tradisional, lagu dolanan, film kartun, hingga video edukatif bisa menjadi media kreatif agar anak menikmati prosesnya.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
