Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Juni 2025 | 21.58 WIB

Fatherless Jadi Pemicu Depresi, RSUD BDH Tangani 10–15 Kasus Setiap Bulan

Cara Mudah untuk Mengatasi Depresi dengan Aktivitas Sehari-hari. (freepik)

JawaPos.com - Tidak hadirnya sosok ayah dalam keluarga atau fatherless berpengaruh besar terhadap kesehatan mental anak. Di RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya, kasus ini kerap muncul di balik keluhan depresi berat, gangguan relasi, hingga keinginan bunuh diri. Dalam sebulan, ada 10–15 pasien yang teridentifikasi mengalami gangguan mental berkaitan langsung dengan absennya figur ayah.

“Sebagian besar datang bukan dengan keluhan kehilangan ayah. Mereka mengaku depresi, sering melukai diri, atau sudah berpikir untuk mati. Tapi setelah digali, ternyata mereka tumbuh tanpa sosok ayah,” kata dokter spesialis jiwa RSUD BDH, dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ.

Menurut dia, dampak fatherless pada laki-laki umumnya berupa krisis identitas. Ayah yang seharusnya menjadi model peran tidak hadir. Akibatnya, mereka tidak tahu bagaimana menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab. Banyak yang kehilangan arah. Ada yang cemas berlebihan, tidak tegas, bahkan pada kasus ekstrem berujung penyimpangan seksual.

Pada perempuan, efeknya sering muncul dalam bentuk relasi asmara yang tidak sehat. Mereka cenderung haus kasih sayang laki-laki dan mudah terjebak dalam hubungan toksik. Ada yang merasa wajar dikontrol secara berlebihan, "Karena sejak kecil tidak tahu bentuk kasih sayang yang sehat dari sosok ayah," kata Riko.

Dia menambahkan, mayoritas pasien usia 20–25 tahun. Namun ada pula yang mulai menyadari dampak fatherless di usia 30–40 tahun. Kasus ini biasanya terungkap belakangan, setelah berkali-kali gagal dalam hubungan atau sulit keluar dari pola relasi yang tidak sehat.

Secara statistik, sekitar 20–30 persen kasus depresi di BDH berkaitan dengan fatherless. Dari total pasien baru psikiatri sekitar 30 orang per bulan, 10–15 di antaranya memiliki riwayat ayah yang tidak hadir secara emosional atau fisik. “Mereka biasanya datang saat kondisinya sudah berat. Dan butuh waktu panjang untuk menyadari sumber luka batinnya,” katanya.

Hal serupa disampaikan Psikolog Universitas Ciputra, Stefany Livia Prajogo. Ia menyebut banyak mahasiswa datang konseling karena bingung dengan relasi yang dijalani. “Mereka tidak sadar itu hubungan tidak sehat. Setelah ditelusuri, ternyata sejak kecil tidak punya figur ayah,” jelasnya.

Namun, dampak fatherless bisa ditekan jika ada pengganti peran ayah yang suportif. Misalnya, kakek, paman, atau ibu yang mampu merangkap peran ayah bisa jadi pelindung psikologis. Yang penting hadir secara emosional dan aktif.(omy)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore