Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Juni 2025 | 02.32 WIB

Kejari Tanjung Perak Tetapkan Tersangka Korupsi PT Perindo Surabaya

Tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi di PT Perindo Unit Surabaya di kantor Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, Surabaya, Kamis (19/6). (Kejari Tanjung Perak/Antara) - Image

Tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi di PT Perindo Unit Surabaya di kantor Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, Surabaya, Kamis (19/6). (Kejari Tanjung Perak/Antara)

JawaPos.com–Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak Surabaya menetapkan dua orang tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pada kegiatan perdagangan dan pengolahan hasil perikanan di PT Perikanan Indonesia (Perindo) Unit Surabaya.

”Kedua tersangka masing-masing berinisial FD selaku Kepala PT Perindo Unit Surabaya, dan P selaku Direktur PT SRBLI. Mereka diduga terlibat dalam pembuatan Purchase Order (PO) fiktif untuk pengadaan ikan,” ujar Kepala Seksi Intelijen Kejari Tanjung Perak I Made Agus Mahendra Iswara seperti dilansir dari Antara di Surabaya, Kamis (19/6).

Menurut dia, penetapan tersangka dilakukan setelah tim penyidik mengumpulkan sejumlah alat bukti termasuk pemeriksaan terhadap 22 orang saksi. Penyidikan kasus ini berdasar Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejari Tanjung Perak Nomor: 01/M.5.43/Fd.1/04/2025 tanggal 29 April 2025, yang diperpanjang dengan surat perintah lanjutan tertanggal 12 Juni 2025.

Kasus bermula pada 31 Oktober 2023, ketika FD menerima PO dari PT GEM untuk pengadaan 85.000 kilogram ikan cakalang. Namun, FD justru meminta P untuk membuat invoice dan tally sheet fiktif yang kemudian digunakan untuk input data ke sistem ACCURATE, seolah-olah PT Perindo memiliki stok ikan.

”Selanjutnya, FD mengajukan nota dinas ke PT Perindo Pusat guna meloloskan pembayaran sebesar Rp 1,78 miliar kepada P, meski ikan tersebut tidak pernah dikirim,” ungkap Made Agus.

Untuk menutupi transaksi fiktif itu, keduanya kemudian membuat PO baru atas nama PT NNN, dan kembali melakukan penagihan sebesar Rp 2,04 miliar. Namun, pembayaran yang diterima hanya Rp 825 juta.

Pada Januari 2024, modus serupa kembali dilakukan dengan menggunakan nama PT UDK untuk pengadaan 40.000 kilogram ikan cakalang dan baby tuna. PO fiktif kembali dibuat, dan PT Perindo Pusat membayar Rp 1,48 miliar kepada P. Penagihan kepada PT UDK sebesar Rp 1,8 miliar, namun hanya Rp 25 juta yang dibayarkan.

Dari hasil penyidikan sementara, Kejari Tanjung Perak menyebut kerugian negara akibat praktik tersebut mencapai sekitar Rp 3 miliar.

”Penyidikan masih terus berlangsung untuk mendalami keterlibatan pihak lain serta kemungkinan adanya aliran dana yang lebih luas,” kata Made Agus.

Kedua tersangka dijerat dengan pasal 2 ayat (1) juncto pasal 18 UU Tindak Pidana Korupsi dan/atau pasal 3 juncto pasal 18, juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kejari Tanjung Perak menegaskan komitmen dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di sektor strategis, termasuk pengelolaan sumber daya perikanan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore