Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Juni 2025 | 02.31 WIB

Pentas Teater ECI PCU Hadirkan Kritik Sosial yang Menggugah Lewat Dua Cerita Kontras

Suryani (kanan) dan anaknya, Renata, bersitegang dalam menghadapi perspektif berbeda soal agama dan keimanan di pementasan teater "Going Home". (PCU) - Image

Suryani (kanan) dan anaknya, Renata, bersitegang dalam menghadapi perspektif berbeda soal agama dan keimanan di pementasan teater "Going Home". (PCU)

JawaPos.com – Program English for Creative Industry (ECI) Petra Christian University (PCU) kembali menunjukkan kualitasnya lewat pentas teater yang menggugah emosi sekaligus menyampaikan kritik sosial. Mengangkat dua lakon berbeda bertajuk Going Home dan Customer is King, pertunjukan yang digelar Sabtu (14/6) di Petra Performance Hall ini menyuguhkan kontras cerita yang kuat namun tetap relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Pementasan diawali dengan Going Home, sebuah drama keluarga yang menyentuh isu iman dan relasi orang tua-anak. Renata dan ibunya, Suryani, digambarkan memiliki pandangan berbeda soal agama.

Suryani yang religius sering kali terjebak pada ritus dan luka masa lalu, sementara Renata mempertanyakan praktik keagamaan yang kerap kehilangan empati sosial. Ketegangan memuncak saat Suryani merasa ajalnya sudah dekat, membuka ruang dialog tentang arti kasih, pengampunan, dan iman yang hidup.

"Ini pengalaman pertama saya menyutradarai teater. Prosesnya penuh tantangan, tapi saya belajar banyak dan sangat terbantu dengan tim yang solid," ungkap Olivia Agatha, sutradara Going Home yang juga alumni ECI angkatan 2018.

Set panggung Going Home dibuat berkolaborasi dengan mahasiswa Interior Design PCU, menghadirkan suasana ruang tamu yang sederhana namun penuh makna. Ornamen salib, foto Yesus, hingga warna-warna kontras pada elemen dekoratif memberi simbol visual atas konflik yang dihadirkan.

Sementara itu, Customer is King hadir dua jam setelahnya, mengangkat tema profesionalisme dan empati di dunia kerja. Helga, seorang resepsionis hotel, dihadapkan pada dilema moral saat berhadapan dengan tamu yang mengalami depresi berat.

Sistem kerja yang mengutamakan kepuasan pelanggan tanpa kompromi membuat Helga terjebak dalam situasi sulit: bersikap manusiawi atau menjaga penilaian performa. "Bel kecil di meja resepsionis kami jadikan simbol tekanan sistem. Tapi ketika tamu depresi datang, bel itu berubah makna, seolah jadi jeritan minta tolong," ujar Saranietha Kadang, mahasiswa ECI sekaligus sutradara Customer is King.

Naskah ini ia angkat dari pengalaman nyata dan pengamatannya terhadap realitas kerja di industri jasa. Kedua pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyodorkan cermin bagi penonton—soal iman, keluarga, pekerjaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sorak dan tepuk tangan penonton yang memenuhi Petra Performance Hall membuktikan bahwa karya mahasiswa ini berhasil menyentuh emosi dan menggugah kesadaran.

Pentas ganda ini menjadi bukti bahwa seni pertunjukan masih relevan sebagai ruang menyuarakan kritik sosial. Lewat tangan para sineas muda seperti Olivia dan Saranietha, teater kembali hidup sebagai medium reflektif dan edukatif. Tak hanya mengasah kreativitas, panggung ini juga memperkuat kontribusi mahasiswa ECI dalam ekosistem seni dan industri kreatif Indonesia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore