
Ketua Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik (PIKP) Arman Hakim Nasution menjelaskan tentang paparannya di Board of Expertise PP IKA ITS. (Humas ITS).
JawaPos.com – Ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku farmasi yang mencapai 90 persen menjadi sorotan tajam dari kalangan akademisi. Peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Arman Hakim Nasution, menegaskan pentingnya penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai strategi utama menghadapi tekanan ekonomi global dan menjaga kemandirian bangsa.
“Kalau bahan baku vital seperti farmasi masih 90 persen impor, itu artinya kita masih sangat rentan. TKDN adalah alat penting untuk membalik kondisi ini,” ujar Arman yang juga Ketua Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik (PIKP) ITS.
Ia menjelaskan, TKDN bukan hanya sekadar regulasi administratif, tapi bagian dari upaya besar memperkuat sektor industri nasional. Menurutnya, saat negara-negara maju seperti Amerika Serikat menerapkan tarif balasan (resiprokal) hingga 32 persen, Indonesia harus memiliki posisi tawar yang setara.
“Jangan hanya mengikuti gendang yang ditabuh negara lain. Kita harus punya strategi mandiri dan berdikari, apalagi untuk sektor-sektor strategis seperti farmasi,” tegasnya.
Arman juga mengulas penurunan laju pertumbuhan industri manufaktur Indonesia pascareformasi. Sebelum 1998, sektor ini mampu tumbuh 13–14 persen dan mengerek pertumbuhan ekonomi nasional ke angka 7 persen. Kini, industri manufaktur hanya tumbuh sekitar 3 persen, yang berdampak pada stagnasi ekonomi di kisaran 5–6 persen.
Ia menilai stagnasi itu disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk biaya modal yang tinggi, dominasi mafia bisnis, hingga intervensi politik dari negara donor. Salah satu contoh adalah sektor pertambangan seperti Freeport, di mana hilirisasi bahan mentah sudah berjalan, tapi industri perakitan belum siap karena kendala struktural.
Untuk mempercepat kemandirian industri, Arman menyarankan sejumlah langkah strategis, seperti penguatan regulasi anti-dumping, relaksasi Dana Hasil Ekspor (DHE), serta kebijakan impor gandum dan kedelai melalui skema antar-pemerintah (G2G).
“TKDN perlu dilaksanakan secara fleksibel dan transparan. Kalau dijalankan serius, ini bisa jadi tameng kuat untuk hadapi tantangan global seperti tarif resiprokal AS,” imbuhnya.
Sebagai anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni ITS dan ICSB Asia Chapter, Arman optimistis Indonesia mampu keluar dari tekanan global dengan pendekatan kolaboratif. “Kalau kita bersatu dalam semangat Indonesia Incorporated, tak ada masalah yang terlalu besar. Kuncinya, jangan kompromikan martabat bangsa,” tandasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
