JawaPos.com - Konsumsi air di Surabaya terus menunjukkan angka yang tinggi, terutama saat Ramadhan. Untuk mengantisipasi lonjakan pemakaian, PDAM Surya Sembada mengambil langkah strategis dengan menambah kapasitas produksi air dari Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Karangpilang sebesar 200 liter per detik.
Selain itu, perusahaan juga memantau tekanan air melalui 550 titik pemantauan yang tersebar di seluruh kota. Hal ini dilakukan agar suplai air tetap stabil dan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah.
"Jika tekanan air mulai turun, itu menandakan ada peningkatan konsumsi secara signifikan. Kami selalu berupaya menjaga agar tekanan tetap stabil sehingga masyarakat tetap mendapatkan aliran air yang lancar," ujar Direktur Operasi PDAM Surya Sembada Nanang Widyatmoko.
Menyadari bahwa kebiasaan boros air masih menjadi persoalan di tengah masyarakat, PDAM tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga gencar melakukan edukasi. Salah satu langkah yang diambil adalah bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengampanyekan gaya hidup hemat air, terutama di tempat ibadah.
"Banyak masyarakat yang masih kurang sadar dalam menggunakan air. Di tempat ibadah, misalnya, sering kita temui air mengalir deras saat wudu atau keran yang dibiarkan terbuka. Bersama MUI, kami mengajak masyarakat untuk menggunakan air secukupnya sesuai anjuran dalam Islam," jelas Nanang.
Tak hanya melalui edukasi, PDAM juga menerapkan sistem tarif progresif untuk mendorong masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan air. Sistem ini membuat tarif air semakin mahal jika pemakaian melebihi batas tertentu.
"Tarif air di Surabaya sebenarnya masih tergolong murah dibandingkan kota-kota lain, yakni sekitar Rp 4.300 per meter kubik. Namun, jika masyarakat terus menggunakan air secara berlebihan, dampaknya bisa dirasakan di masa depan. Kita harus mulai bijak dalam mengelola sumber daya ini," tambahnya.
Dengan tingkat konsumsi yang terus meningkat, PDAM mengimbau warga Surabaya untuk lebih sadar dalam menggunakan air. Jika kebiasaan boros ini tidak segera dikendalikan, bukan tidak mungkin Surabaya akan menghadapi krisis air di tahun-tahun mendatang.
"Air bukanlah sumber daya yang tak terbatas. Jika kita tidak mulai berhemat dan menggunakan air dengan bijak, kelangkaan bisa terjadi, terutama saat musim kemarau atau ketika kebutuhan semakin meningkat," tegas Nanang.
PDAM berharap masyarakat bisa lebih peduli terhadap pentingnya penghematan air, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di tempat umum. Dengan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, diharapkan ketersediaan air bersih di Surabaya tetap terjaga untuk generasi mendatang.