Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Januari 2025 | 21.09 WIB

Filosofi Pembakaran Dupa dalam Perayaan Imlek: Simbol Doa dan Konsentrasi

Pembakaran dupa dalam perayaan Imlek sebagai simbol doa dan konsentrasi bagi umat Tionghoa. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos). - Image

Pembakaran dupa dalam perayaan Imlek sebagai simbol doa dan konsentrasi bagi umat Tionghoa. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos).

JawaPos.comPerayaan Imlek bukan sekadar momen pergantian tahun dalam kalender Tionghoa, tetapi juga menjadi waktu yang sakral bagi umat untuk beribadah dan mengungkapkan rasa syukur. Salah satu elemen penting dalam peribadatan ini adalah pembakaran dupa atau hio, yang memiliki makna mendalam dalam tradisi Tionghoa.
 
Dupa merupakan salah satu sarana ibadah yang umum digunakan oleh umat Konghucu, Buddha, dan Tao. Selain dupa, terdapat juga lilin, bunga, dan buah sebagai bagian dari persembahan di TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma).
 
Eka, seorang sukarelawan di salah satu klenteng di Surabaya, menjelaskan bahwa dupa memiliki filosofi yang berakar sejak ribuan tahun lalu.
 
"Dupa itu sebenarnya digunakan untuk membantu konsentrasi. Dulu, belum ada sabun wangi, parfum, atau pengharum ruangan seperti sekarang. Zaman dahulu, ketika para murid berkumpul untuk belajar, dupa dibakar agar suasana lebih nyaman dan menenangkan," jelasnya pada JawaPos.com.
 
Selain itu, asap dupa yang membubung ke atas juga melambangkan doa yang naik ke langit, sebagai perantara antara umat dengan Tuhan atau leluhur.
 
 
Selain dupa, terdapat elemen lain yang biasanya disertakan dalam persembahan, seperti lilin, buah, dan bunga. Lilin melambangkan cahaya kebijaksanaan yang menerangi kehidupan.
 
Buah yang umum digunakan dalam persembahan meliputi apel, jeruk, buah pir (li), dan buah naga, sementara jenis bunga yang digunakan lebih fleksibel.
 
"Bunga persembahan biasanya yang mudah ditemukan di sekitar kita, karena kita berhubungan dengan kearifan lokal. Bisa bunga mawar, melati, kenanga, bahkan bunga matahari. Tidak ada aturan baku," tambah Eka.
 
Perayaan Imlek tahun ini menandai tahun ke-2576 dalam kalender Tionghoa, jauh lebih lama dibanding kalender Masehi yang saat ini berada di tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung selama ribuan tahun dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
 
Meskipun zaman terus berubah, makna dari pembakaran dupa dan persembahan lainnya tetap terjaga sebagai bagian dari penghormatan terhadap tradisi dan ajaran leluhur. 
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore