Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 November 2024 | 20.23 WIB

Kolaborasi Komunitas-Pemkot Surabaya Merawat Sejarah Kepahlawanan, Demi Menghindari Fenomena "Asal Wisata" Terjadi Lagi

REKA ULANG: Teatrikal Parade Juang 2024 pekan lalu (3/11) yang diikuti ribuan peeserta dari elemen masyarakat diadakan untuk menjaga memori kolektif tentang perjuangan di Surabaya. - Image

REKA ULANG: Teatrikal Parade Juang 2024 pekan lalu (3/11) yang diikuti ribuan peeserta dari elemen masyarakat diadakan untuk menjaga memori kolektif tentang perjuangan di Surabaya.

Komunitas dengan fokus sejarah tumbuh subur di Surabaya. Aktivitasnya tidak sekadar kumpul, ngopi, dan diskusi. Komunitas-komunitas ini turut berkontribusi ide hingga tenaga ke Pemkot Surabaya demi lestarinya kesejarahan di kota ini.

Masa lalu selalu hidup di tangan pegiat komunitas penyuka sejarah. Di Surabaya, terdapat beberapa komunitas yang memang menaruh fokus besar di ranah itu. Misalnya, Begandring Soerabaia, Sobo Punden, dan Roodebrug Soerabaia.

Nah, Begandring Soerabaia memang cukup getol bergerak dalam upaya konservasi histori. Baik kisah, ingatan, maupun peninggalan fisik sejarah. Revitalisasi Makam Peneleh merupakan satu di antara banyak program yang sudah dimiliki Begandring Soerabaia.

Ketua Begandring Soerabaia Achmad Zaki Yamani menuturkan, fokusnya saat ini memang bersama Pemkot Surabaya menyelesaikan Makam Peneleh pada 2025. "Karena juga akan dijadikan salah satu destinasi wisata," ungkapnya.

Di luar itu, banyak rencana soal sejarah yang sudah "antre". Salah satunya adalah soal bunker di Kota Pahlawan. "Kami rencananya mau menyusun dan menggarap bunker-bunker di wilayah Surabaya Utara. Ada banyak, tapi kami belum sempat karena harus antre menyelesaikan Makam Peneleh dulu," tutur Zaki.

Zaki menambahkan, kerja sama dengan Pemkot Surabaya lewat revitalisasi Makam Peneleh bukan kali pertama. Sebelumnya, ada masterplan Kota Lama Surabaya yang juga melibatkan Begandring Soerabaia dalam prosesnya.

"Kemudian ada pemantapan kembali kelahiran Presiden Pertama RI Soekarno di Surabaya. Kami dan Pemkot Surabaya dalam hal ini adalah partner untuk sama-sama membenahi peninggalan sejarah di Surabaya," tuturnya.

Upaya advokasi budaya pun diakui Yayan Indrayana, arsitek dan pakar urban design, sebagai area abu-abu. Ada beda persepsi antara pelestari budaya dan pemerintah. "Ambil contoh, Kota Tua Surabaya. Lokasinya memang ramai, tapi tidak optimal untuk wisata budaya,” ucap Yayan.

Gedung Internatio tak bisa diakses. Kalaupun bisa, tak ada pemandu wisata yang kapabel.

Pun dengan gedung-gedung di sekitar seperti Arcadia dan Gedung Algemeene (alias Gedung Singa). Masih lestari dan terjaga bentuk aslinya, tapi tak bisa dinikmati ceritanya. Imbas lainnya, tempat sekitar –yakni Jembatan Merah Plaza– ikut mengalami penurunan kunjungan. Dia juga cukup menyayangkan pemerintah yang melihat kawasan cagar budaya sebagai lokasi wisata. Lokasi itu diolah untuk menarik wisatawan, tanpa memperhatikan nilai lebih di baliknya.

Dia mencontohkan, area Jalan Tunjungan. Meriah, memang. Suasana hidup dengan lampu-lampu jalan dan kafe atau pertokoan di sisi kanan-kirinya. Polusi visual seperti peletakan brand atau papan reklame pun terbilang minimal dan terkendali.

"Tapi, kawasan itu overcrowded. Kepadatan pengunjung adalah salah satu penyebabnya, tapi lalu-lalang kendaraan dan beban parkir di lokasi sekitar saya rasa juga perlu diperhatikan. Sebab, Jalan Tunjungan itu berstruktur koridor,” ujarnya.

Untuk mencegah fenomena "asal wisata" serupa, Yayan dan tim Begandring Soerabaia pun cukup tegas saat berkolaborasi dengan pemerintah kota. Mereka memastikan konservasi dan edukasi berlangsung meski lokasi itu nantinya jadi jujukan pengunjung dari berbagai daerah. "Sekarang, pemkot pun berpikir ulang, tidak bakal jalan sebelum ada kesepakatan,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Wakil Komunitas Sobo Punden TP Wijoyo. Pria yang fokus pada sejarah klasik dan kolonial itu menyebut revitalisasi atau penemuan situs sejarah tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada sinergi dengan pihak-pihak berwenang. "Tidak bisa melangkah sendiri-sendiri, harus bersinergi," katanya.

Komunitas sejarah juga diakuinya banyak belajar dari berbagai pihak berwenang. Wijoyo menyebutkan, dirinya sempat belajar bagaimana penggalian situs-situs di beberapa wilayah Jawa Timur. "Saling sharing dan berbagi. Kami dapat banyak ilmu juga," ungkapnya. (fam/el/rid/c7/dra)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore