Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Juni 2024 | 17.39 WIB

Malam Jumat Legi, Waktu Ritual Wajib Bagi Pengemudi Ambulans Pengangkut Jenazah agar Tidak Diganggu

JADI BAGIAN KEHIDUPAN: Sulistiyono menunjukkan ambulans yang sudah 20 tahun menemaninya Banyak cerita tak lazim yang terjadi. Mulai lampu yang menyala sendiri hingga mendadak terasa berat. - Image

JADI BAGIAN KEHIDUPAN: Sulistiyono menunjukkan ambulans yang sudah 20 tahun menemaninya Banyak cerita tak lazim yang terjadi. Mulai lampu yang menyala sendiri hingga mendadak terasa berat.

Membawa jenazah korban kecelakaan yang tubuhnya sudah tak berbentuk bukanlah hal baru bagi Sulistiyono. Pria yang tinggal di Gresik itu tak pernah merasa takut. Hanya, gangguan kecil sering dirasa keluarga dan tetangga saat ambulans diparkir di rumah.

YANG paling sering terjadi adalah lampu hingga mesin ambulans tiba-tiba menyala. Padahal, mobil sedang terparkir di rumah. Kunci juga tersimpan di dalam. Keluarga dan tetangga pun bingung. Pernah juga saat mesin mobil menyala, Sulistiyono langsung keluar rumah dengan kunci masih di genggaman tangan. Tak lama kemudian mesin mati sendiri.

Hal semacam itu tak dirasa mengganggu bagi pria yang menjadi sopir ambulans sejak 1980-an tersebut. Kala itu dia bertugas di beberapa puskesmas di Kabupaten Gresik. Mulai Puskesmas Wringinanom, Driyorejo, hingga Menganti. Di Menganti itulah dia diangkat menjadi PNS. Namun, tugasnya tetap sama, menjadi sopir ambulans puskesmas keliling.

Pada 2001, dia membeli mobil yang diubah menjadi ambulans pengangkut jenazah. Sebab, mobil puskesmas keliling tidak boleh dibuat mengangkut jenazah. Padahal, di area tempat kerjanya sering kali terjadi kecelakaan dengan korban jiwa. Dia pun menjadikan ambulans jenazah miliknya sebagai sampingan.

Karena sudah puluhan tahun berurusan dengan jenazah, segala macam kejadian tak mengenakkan pernah dialaminya. Salah satunya, harus tidur bersama jenazah korban laka selama beberapa hari.

Kala itu dia harus mengirim jenazah ke Bengkulu. Belum ada jalan tol seperti sekarang. Di tengah jalan, BBM-nya habis. Uang juga habis. Sementara itu, jarak ke rumah duka masih 300 kilometer. ’’Berbekal telepon jadul saya hubungi keluarganya dan ditunggu di pom yang paling dekat dengan dirinya,’’ ucapnya.

Pernah juga dia mengantar jenazah yang ketahuan meninggal setelah sepekan. Sulistiyono tidak takut. Namun, dia butuh beberapa kilogram kopi bubuk untuk menghilangkan bau busuk selepas mengantar jenazah. Tak jarang juga dia membersihkan belatung yang tertinggal di mobilnya.

Pada suatu waktu, mobil yang dibawanya terasa berat. Dia menyatakan, itu bukan urusan besar kecilnya tubuh jenazah. Sebab, sering kali jenazah yang kecil juga berat untuk dibawa. Sebagaimana ketika dia harus mengantar jenazah ke Klaten, Jawa Tengah. Tiba-tiba mobilnya hanya bisa berjalan di kecepatan 70–80 kilometer. ’’Akhirnya saya putuskan berhenti,’’ ucapnya.

Saat itu jenazah di ambulans hanya dengan Sulistiyono dan satu orang keluarga. Rombongan lainnya dan anak almarhum berada di mobil belakang. Dia lantas meminta dua anak korban turun dan masuk ambulans. Setelahnya mobil berjalan normal. Rupanya, orang yang meninggal itu ingin didekati kedua anaknya.

Kejadian serupa terjadi ketika dia mengirim jenazah ke Banyuwangi. Saat itu korban laka merupakan kakak adik. Dua jenazah itu dibawa dengan satu mobil ke rumah duka. Mobil mendadak tak bisa jalan. Hingga akhirnya dia berhenti dan membuka pintu bagian belakang. ’’Saya bilang sampean jangan ganggu ya, saya ingin bantu sampean,’’ ucapnya. Saat itu juga ambulansnya bisa berjalan normal.

Pengalaman lain adalah saat mengirim jenazah laka ke Purwakarta. Saat itu yang nyetir saudara Sulistiyono. Saat melewati Pati, ambulans ngerem mendadak. Dia menyatakan ada tangan yang keluar dari jendela. Penampakan itu dilihat saudaranya dari kaca spion. ’’Saat itu juga dia minta saya yang nyopiri,’’ ucapnya.

Sulistiyono lantas mendatangi seorang kiai. Sulistiyono diminta melakukan ritual memandikan ambulans dengan kembang tujuh rupa. Termasuk membacakan amalan pada malam Jumat Legi.

Jika ambulans lupa dimandikan, kejadian ganjil sering muncul. Anak dan istrinya juga sering takut saat di rumah. Sebab, ada suara tangisan dari ambulans, lampu yang tiba-tiba menyala, hingga suara gelodakan. ’’Jadi, sampai sekarang setiap malam Jumat Legi selalu rutin saya mandikan,’’ ucapnya.

Tahun 2108 Sulistiyono pensiun dari PNS Kabupaten Gresik. Namun, hingga sekarang dia masih menjadi sopir ambulans. Dia menuturkan, menjadi sopir ambulans itu harus berani dan tidak boleh sombong. Sebab, tidak akan ada yang tahu bagaimana kejadian dalam perjalanan. Yang jelas, dari awal harus ada niat baik dalam hati untuk menolong. (omy/c12/any)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore