JawaPos.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan bahwa ketersediaan bahan pangan khususnya beras menjelang Ramadhan aman.
Pemkot Surabaya juga menyebut ketersediaan stok bahan pangan masih cukup hingga lebaran.
Selain itu, ada sejumlah upaya tambahan yang dilakukan Pemkot untuk mengantisipasi lonjakan harga beras.
Ketua Tim Kerja Pengendalian dan Distribusi Perekonomian Pemkot Surabaya Agung Supriyo Wibowo menjelaskan bahwa indeks kecukupan pangan di Surabaya aman.
Dikutip dari Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Kamis (29/2), nilai indeks kecukupan pangan di Surabaya saat ini berada di angka 2,06. Artinya, ketersediaan bahan pangan berada di atas ambang batas aman.
"Stok pangan di Surabaya alhamdulillah untuk bulan Februari ini tercukupi karena indeks kecukupan pangan kita 2,06. Jadi kalau 1, itu imbang antara kebutuhan dengan ketersediaan. Sedangkan kita sudah berada di angka 2,06," ujarnya.
Meski demikian, kenaikan harga bahan pokok (bapok) tak terbendung. Utamanya terjadi pada harga beras premium. Kata Agung, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium di angka Rp 13.900 per kilogram.
"Memang untuk saat ini yang menjual Rp 18.000 - Rp 17.500 per kilogram," ucapnya.
Agung juga menyampaikan bahwa pemkot mengimbau masyarakat untuk bisa mengonsumsi beras medium karena jenis tersebut juga berkualitas. Kata dia, soal rasa tak jauh beda dengan beras premium.
"Karena itu pemkot mengimbau masyarakat supaya bisa memakai beras medium, sebenarnya rasanya sama. Cuma memang mungkin imagenya masyarakat, harus makan beras merek tertentu," ungkapnya.
Kata Agung, pemkot telah bekerja sama dengan Bulog untuk menggelontorkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Di mana nantinya harga yang dipatok untuk beras SPHP adalah Rp 10.900 per kilogram.
"Jadi di Kios TPID menjual beras dengan harga murah dan kualitasnya juga bagus. Dan memang di sana dibatasi harga maksimal per kilogram Rp 10.900 untuk masyarakat umum. Dan Kios TPID juga melayani pedagang untuk dijual lagi," beber Agung.
Sementara itu, Kabid Distribusi Perdagangan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perdagangan (Dinkopdag) Kota Surabaya Devie Afrianto mengatakan bahwa saat ini ada sembilan kios TPID yang berjualan.
Pada setiap pekan, perputaran beras sekitar 100 ton. Di mana tren positif tersebut akan dimasifkan.
"Setiap minggunya sekitar 100 ton berputar dan terus akan ditambah. Minggu ini kita juga targetkan menambah sekitar 18 kios TPID dan itu akan ditambah lagi," tegasnya.
Devie berharap, keberadaan kios TPID diharapkan semakin memudahkan masyarakat, utamanya untuk membeli bahan pangan dengan harga HET. Sekaligus memberikan alternatif pilihan beras melalui kios tersebut kepada masyarakat.
"Jadi, masyarakat mendapat alternatif pilihan untuk membeli kebutuhan bahan pokok, terutama beras. Di sana kita menyediakan alternatif produk beras yang kualitasnya sama atau mendekati premium dengan harga yang sangat kompetitif," terangnya.
Dia juga mengungkapkan jika harga panen raya diperkirakan terjadi pada bulan Maret 2024. Menurutnya, kondisi tersebut akan berpengaruh pada menurunnya harga bahan pangan, terutama beras. Pihaknya memprediksi harga kembali normal.
"Jadi nanti setelah bulan Maret, diperkirakan harga kembali di titik normal. Mungkin sekitar 1-2 bulan setelah Maret, itu benar-benar normal. Tapi pada saat kita masuk ke fase panen raya, harga sudah mulai bergerak ke titik normal," kata Devie.
Sementara itu, Kabid Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya Dwi Suryaning Endah Yanie mengungkap bahwa kenaikan harga bapok biasanya terjadi saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Hal tersebut disebabkan oleh kebutuhan bahan pangan saat HBKN akan meningkat. Sedangkan kondisi suplai stok menurun.
"Karena kebutuhan akan bahan pangan meningkat, sehingga demandnya tinggi dan kemungkinan suplai menurun. Itu yang membuat harga-harga meningkat, sehingga membuat daya beli masyarakat berkurang," tutur Dwi.
Tetapi, Dwi menilai bahwa kenaikan harga bahan pokok sudah terjadi sejak akhir 2023. Menurutnya, kenaikan harga bapok tersebut disebabkan oleh beberapa faktor pemicu lain. Pengaruh terbesarnya yakni cuaca ekstrem.
"Karena pemicunya dampak El Nino yang berkepanjangan. Ada juga dipicu oleh krisis global, ada perang, itu juga jadi pemicu," imbuhnya.