
Photo
JawaPos.com - Pelaku romance scam mencomot foto-foto pekerja migas, tentara, dan polisi-polisi tampan untuk menjerat para korbannya. Mereka mengambil foto-foto itu dari akun asli media sosial (medsos) untuk dipasang di akun-akun palsu yang digunakan untuk menipu.
Hingga kini akun-akun palsu dengan foto pekerja migas hingga polisi tampan masih bertebaran di sejumlah platform medsos.
Wakil Ketua Komunitas Waspada Scammer Cinta (WSC) Nurlaila Indriani menyatakan, pelaku yang mengaku polisi biasanya menggunakan modus mutasi. Polisi gadungan itu meminta uang untuk biaya mutasi agar dapat pindah ke domisili korban untuk menikah.
’’Kalau yang mengaku pekerja migas, mereka bilang posisi di laut dan butuh helikopter untuk ke darat menemui korban. Mereka minta biaya sewa helikopter hingga Rp 60 juta,’’ kata Indri.
Menurut dia, pelaku mengincar korban melalui profil di media sosial calon korbannya. ’’Kalau akun korban tidak diprivat, pelaku bisa melihat karakter korban melalui profil media sosial. Pelaku punya daftar siapa saja yang akan dikirimi pesan percakapan pribadi,’’ ungkap Indri.
Pelaku juga punya cara untuk memanipulasi pikiran korbannya. Mereka akan mengirimi korban percakapan secara intens dan mesra untuk membuat korban merasa nyaman. Korban kemudian diajak berpacaran hingga dijanjikan untuk dinikahi.
’’Intens pagi, siang, malam menghubungi untuk memberikan perhatian ke korban. Ketika korban sudah masuk jeratan, pelaku meminta korban mentransfer uang,’’ tuturnya.
Dosen Ilmu Komunikasi Unair Nisa Kurnia Illahiati menambahkan, pelaku kerap mengincar wanita kesepian untuk dijadikan korban. Mereka mengirim pesan kepada para korbannya yang menimbulkan rasa empati.
’’Orang yang punya faktor psikologis kesepian secara emosional jauh dari orang terdekat. Pelaku masuk dengan memberi kata-kata manis penuh perhatian hingga korban akhirnya teperdaya,’’ kata Nisa yang meneliti kejahatan tersebut.
Nisa menyebut pelaku romance scam sebagai sindikat dengan kejahatan yang terorganisasi. Pelaku berasal dari Nigeria, Bangladesh, hingga Asia Tenggara yang menggunakan bahasa Melayu untuk menjerat korbannya. Menurut dia, dulu pelaku kerap mengincar pekerja migran. Kini pola itu bergeser dengan korban yang berasal dari berbagai latar belakang.
Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Dirmanto mengatakan, modus penipuan seperti itu sudah ada sejak lama. Sebelum beraksi, sangat mungkin pelaku sudah mempelajari profil calon korban. ’’Modal utama mereka adalah media sosial dan mencatut nama orang lain,’’ ungkapnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
