
Mobil tertimpa pohon di perumahan Kahuripan Nirwana Sidoarjo, Minggu (23/10). Umarul Faruq/Antara
JawaPos.com- Sebanyak 255 bencana terjadi di Sidoarjo sejak Januari hingga akhir November 2022. Data tersebut kemarin (26/12) dirilis Badan Penanggalangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo. Dari 255 bencana yang terjadi, ada 106 bencana non-alam dan 149 bencana alam.
Kepala BPBD Sidoarjo Dwijo Prawito mengatakan, bencana paling banyak yang terjadi di Sidoarjo tahun ini adalah kebakaran dengan total 194 kejadian. Meski begitu, kebakaran permukiman yang bukan karena faktor alam menjadi yang paling banyak.
’’Kebakaran permukiman hingga November sendiri ada sekitar 105 kejadian. Sedangkan kebakaran lahan hanya 89 kejadian,'' ungkapnya
Krian menjadi kecamatan dengan jumlah kebakaran paling banyak tahun ini. Yakni, 2 kejadian. Menurut Dwijo, banyaknya lokasi industri dan lahan kosong di Krian menjadi penyebab tingginya angka kebakaran di sana.
Di sisi lain, hingga minggu ketiga Desember, ada setidaknya dua tambahan kejadian kebakaran. Yaitu, kebakaran di Jabon pada 6 Desember akibat obat nyamuk membakar kasur hingga seorang kakek meninggal serta kebakaran di rumah warga daerah Gedangan pada 18 Desember lalu. Total ada enam orang luka-luka dan dua orang meninggal.
Bencana paling banyak kedua adalah angin kencang. BPBD mencatat, hingga November setidaknya ada 38 kejadian angin kencang. Ditambah lagi ada dua kejadian angin kencang di Waru dan Candi pada Desember. ’’Angin kencang paling sering terjadi dan intens memang di dua bulan belakangan ini dan cukup parah,’’ jelas Dwijo.
Dari data BPBD diketahui ada lebih dari 1.322 rumah dan 50 fasum rusak diikuti dengan 122 pohon tumbang. ’’Penanganannya sudah cepat dan untuk bantuan kerusakan sudah kami tuntaskan semua,’’ ujarnya. Menurut Dwijo, kejadian angin puting beliung tampaknya masih akan terjadi selama musim hujan berlangsung di Sidoarjo. ’’Tentunya kami sudah siap untuk menghadapi itu,’’ tegasnya.
Terakhir, menurut Dwijo, banjir menjadi bencana paling sedikit terjadi di Sidoarjo dengan 21 kejadian. Dengan lokasi paling sering terjadi banjir di Jabon sekitar empat kali. ’’Kalau Jabon paling banyak karena lokasinya muara dan memang rawan beberapa kali banjir rob,’’ jelasnya.
Sedangkan rentang waktu surutnya banjir tahun ini cenderung lebih cepat dari tahun lalu. ’’Tahun lalu di Sedati bisa berhari-hari. Setelah ada penanganan antisipasi dari pemkab, sekarang hanya selang sehari dua hari sudah bisa surut banjir,’’ pungkasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
