Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 31 Oktober 2022 | 20.48 WIB

Eks Lokalisasi Moroseneng Hidup Lagi: Buka Diam-Diam dan Pakai Calo

PERLU PENERTIBAN: Bekas wisma di eks lokalisasi Jalan Sememi Jaya Utara, Kecamatan Benowo, yang disulap menjadi laboratorium tanaman. Di kawasan itu, praktik prostitusi diam-diam masih dijumpai. (Riana Setiawan/Jawa Pos) - Image

PERLU PENERTIBAN: Bekas wisma di eks lokalisasi Jalan Sememi Jaya Utara, Kecamatan Benowo, yang disulap menjadi laboratorium tanaman. Di kawasan itu, praktik prostitusi diam-diam masih dijumpai. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com – Sudah sembilan tahun wilayah Sememi Jaya di Kecamatan Benowo ditetapkan sebagai kawasan bebas lokalisasi-prostitusi. Namun, plakat yang dipasang pemkot pasca penutupan lokalisasi pada 2013 itu tampaknya tidak diindahkan pengelola bekas wisma. Aktivitas prostitusi masih berjalan dan bergeliat di sana.

Tim Jawa Pos mencoba untuk menelusuri dugaan adanya aktivitas prostitusi di kawasan tersebut. Salah satunya, di Sememi Jaya Gang I. Begitu masuk gang, ada beberapa pria paro baya yang seolah menyambut.

Mereka duduk di sebelah kiri jalan. Jarak tempat pria paro baya itu duduk-duduk tidak jauh dari jalan raya. Kurang lebih 100 meter dari bibir gang. Para pria paro baya itu melambaikan tangan kepada setiap pria yang melintas.

Terutama pria yang bukan warga setempat. Ketika berhenti, pria paro baya itu melontarkan satu pertanyaan khas makelar atau calo. ’’Golek cewek ta, Bos,” ucap pria berkaus hitam itu.

Begitu diiyakan, ada pria tua yang membantu untuk parkir motor. Si calo tadi mengantarkan ’’calon pembeli” ke dalam salah satu wisma. Dari luar, wisma bercat hitam itu terlihat seperti bangunan kosong. Pintu terkunci dari luar.

Begitu masuk, ada dua ruangan yang harus dilewati. Yakni, ruangan besar seperti aula. Atau, lebih tepatnya ruang tamu. Kondisinya gelap. Tidak ada penerangan sama sekali. Setelah melewati ruangan gelap itu, ada ruang tengah yang terang benderang. Di sisi kanan dan kirinya terdapat pintu kamar seperti kos-kosan. Total ada delapan kamar di dalam wisma tersebut.

Di ruang tengah itu, sudah duduk beberapa perempuan ber-make-up tebal. Mereka mengenakan pakaian serbamini. Perempuan-perempuan itu merupakan pekerja seks komersial (PSK). Calon pembeli disuruh memilih. Tarifnya sama. ’’Rp 190 ribu selama satu jam. Nanti parkirnya Rp 10 ribu,” kata si calo tadi.

Ternyata, tidak hanya satu wisma yang masih aktif beroperasi secara diam-diam. Berdasar informasi yang dihimpun tim Jawa Pos, total ada sembilan wisma yang masih aktif. Letaknya di Sememi Jaya Gang I dan Gang III.

Semuanya beroperasi dengan sistem yang sama. Yakni, menggunakan calo. Di Sememi Jaya Gang III, pintu wisma tidak hanya dikunci. Ada yang digembok dari luar. Di dalam sudah ada beberapa perempuan muda hingga paro baya yang menunggu pelanggan. ’’Aman. (Kalau ada patroli, Red) paling cuma keliling,” kata seorang calo di Sememi Jaya Gang III.

Dinda (bukan nama sebenarnya), salah seorang PSK di Sememi Jaya Gang I, mengakui bahwa wisma tempat dirinya bekerja dikelola seorang pemilik tempat hiburan malam di Jalan Raya Manukan–Benowo. Biasanya PSK di wisma tersebut juga ’’diperbantukan” menjadi ladies companion (LC).

Perempuan 35 tahun itu mengaku hampir tidak pernah ada petugas yang melakukan razia. Baik dari kepolisian maupun satpol PP. ’’Selama ini aman. Pokoke kalau ada apa-apa ya nanti pasti ada yang tanggung jawab toh,” ucapnya dengan santai.

Ketua RW 1 Kelurahan Sememi Mahfud mengaku tidak tahu dan tidak mau tahu adanya aktivitas prostitusi di Sememi Jaya Gang I dan III. Dia menyatakan, lokalisasi sudah ditutup dan tidak dibuka lagi. ’’Gak onok. Wes buyar,’’ ucapnya.

Mahfud yakin kampungnya sudah bersih dari aktivitas prostitusi. Warganya juga kompak menolak adanya lokalisasi di wilayah Sememi. ’’Kami sama-sama berkomitmen untuk menjaga lingkungan tempat tinggal dan anak-anak kami,’’ katanya.

Sering Patroli, Tak Temukan Prostitusi


TIGA bulan lalu, kecamatan menggelar rapat gabungan bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, kepolisian, dan komunitas di wilayah Benowo. Isu terkait adanya aktivitas prostitusi di Sememi Jaya menjadi bahasan utama. Namun, sampai hari ini, aparat mengklaim tidak menemukan adanya aktivitas prostitusi.

Camat Benowo Denny Christupel Tupamahu menyatakan, patroli digelar rutin siang dan malam. Khusus pada malam hari, ada petugas gabungan dari satpol PP dan BPBD yang berjaga di dalam gang. ’’Masih jalan sampai sekarang. Kami berpatroli rutin dan ngepam di situ. Konsumsi disuplai dari bagian umum,” ujarnya kemarin (30/10).

Denny mengakui, isu terkait adanya aktivitas prostitusi di kawasan Sememi Jaya memang masih santer dibicarakan. Namun, selama tidak ada temuan, pihaknya meyakini eks lokalisasi Moroseneng tidak hidup lagi. ’’Kalau ada temuan, kami akan sampaikan ke satpol PP untuk dilakukan razia. Dan itu pidana, lho,” terangnya.

Ada beberapa program yang sudah disiapkan untuk menghalau isu miring terkait eks lokalisasi Moroseneng. Salah satunya, program Moroseneng kreatif di Sememi Jaya Gang II. Rencananya, ada bazar yang digelar setiap Minggu di depan Taman Anggrek. Pameran produk UMKM serta pentas seni oleh anak muda akan diadakan di tempat tersebut.

Selain itu, ada program Moroseneng bersalawat. Kecamatan menggandeng organisasi masyarakat (ormas) keagamaan untuk menjalankan program tersebut. Antara lain, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan LDII. ’’Kami sudah siapkan gedung untuk sekretariat bersama untuk NU, Muhammadiyah, dan LDII,” katanya.

Di belakang Taman Anggrek, ada lahan kosong yang rencananya diubah menjadi tempat wisata. Hal itu, kata Denny, disampaikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat berkunjung ke Sememi Jaya Gang II pada September lalu. ’’Intinya, tidak ada temuan adanya aktivitas prostitusi. Nanti kami ramaikan kampung eks lokalisasi dengan program-program yang sudah disiapkan. Termasuk program padat karya yang sudah berjalan,” tandasnya.

TEMUAN DI LAPANGAN

• Masih ada wisma yang buka diam-diam.

• Semuanya menggunakan jasa calo untuk menjajakan PSK.

• Wisma yang masih aktif berada di Sememi Jaya Gang I dan III.

Langkah Antisipasi dari Pemerintah:

• Melakukan patroli rutin

• Menyiagakan petugas malam sampai pagi

• Mendata warga pendatang

• Menyiapkan program untuk meramaikan kampung

Diolah dari berbagai sumber

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore