Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 September 2022 | 01.48 WIB

Ke RSUD BDH Harus Jalan Kaki atau Ngojek

TAMBAH RUTE: Sejumlah warga Surabaya memanfaatkan penambahan rute Suroboyo Bus hingga TOW (Terminal Osowilangun) dari Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ). (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

TAMBAH RUTE: Sejumlah warga Surabaya memanfaatkan penambahan rute Suroboyo Bus hingga TOW (Terminal Osowilangun) dari Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com – Transportasi umum seharusnya bisa mengakomodasi mobilitas warga ke tempat-tempat umum yang strategis. Misalnya, rumah sakit hingga tempat wisata. Sayangnya, di Surabaya ini belum semua tempat mampu dijangkau moda transportasi umum konvensional.

Salah satunya, akses transportasi umum menuju ke RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) di Jalan Kendung, Kecamatan Benowo. Hingga saat ini, belum ada kendaraan umum yang memiliki trayek menuju rumah sakit pelat merah di kawasan Surabaya Barat tersebut. Lokasi RSUD BDH memang sedikit masuk. Jarak antara Jalan Raya Sememi ke depan rumah sakit di Jalan Kendung itu sekitar 2 kilometer.

Namun, lagi-lagi tidak ada transportasi umum yang melintasi Jalan Kendung. Rata-rata hanya lewat Jalan Raya Sememi. ”Kalau dari Terminal Osowilangun, turun di pertigaan Margomulyo, lalu oper lin Z warna merah ke depan Jalan Kendung. Lha, masuknya itu bisa naik ojek karena memang tidak ada (transportasi umum yang ke RSUD BDH, Red),” ujar Koordinator Tata Terminal TOW Hery Isbiyanto.

Dulu ada lin Z1 yang melewati depan rumah sakit dari Perak. Namun, jumlah armadanya semakin sedikit. Bahkan, kabar terakhir, angkutan umum itu tidak beroperasi lagi karena sepi penumpang.

Bukan hanya di RSUD BDH, di RSUD dr Mohamad Soewandhie juga demikian. Tidak ada akses langsung untuk menuju ke sana. Warga harus mengalah dengan jalan kaki untuk sampai ke rumah sakit dari pemberhentian angkutan terdekat.

Akhirnya, warga seperti Elin Novelinda memilih untuk menaiki kendaraan pribadi atau ojek online. Biaya ekstra pun harus dia keluarkan. Perempuan 36 tahun tersebut merupakan warga Jalan Tambak Segaran, Simokerto. ”Nggak hanya ke sini (RS Soewandhie), pergi ke mana-mana juga lebih suka motoran sendiri. Kalau jaraknya jauh, paling order ojol. Jarang naik bemo (angkot),” ucap Elin di Jalan Tambak Rejo Rabu (21/9).

Untuk akses ke tempat wisata, beberapa angkutan umum masih bertahan. Hanya, penumpangnya begitu sedikit. Misalnya, angkot yang melintas di THP Kenjeran dan Sentra Ikan Bulak (SIB). Rute itu dilintasi lin R2. Jika tidak ada penumpang, sopir memilih putar balik menuju Jembatan Merah Plaza (JMP).

Sehari, Muhari sudah dua putaran dengan membawa total 13 penumpang, termasuk Jawa Pos. Dia menyatakan, daerah wisata dan bus kota, termasuk Suroboyo Bus, secara tidak langsung telah terkoneksi dengan lin dari beberapa trayek. Dia mencontohkan lin R yang melintas dari Terminal Kenjeran menuju JMP melalui jalur luar.

Lin R melewati titik poin pemberangkatan Suroboyo Bus di Kenjeran Park. Termasuk lin P dan S yang secara trayek juga melewati jalur bus kota atau Suroboyo Bus di Jalan Kenjeran dekat Kenjeran lama. ”Tapi, ya itu, mendorong naik angkot ini kok susah sekali. Padahal, dulu ramai,” ungkap sopir lin yang sudah 11 tahun bekerja tersebut.

Kesulitan berganti moda dan kurang efisien juga dirasakan pengguna transportasi berbasis rel. Azmi Fadlillah, misalnya. Dia mengakui bahwa konektivitas transportasi belum semudah dan terjangkau jika dibandingkan dengan kota lainnya. Dia lebih memilih menaiki ojek online setelah turun dari Stasiun Gubeng.

Angkot pun dirasa tidak praktis karena sering kali berjalan lambat untuk mencari penumpang. ”Suroboyo Bus juga kurang efisien. Waktu tempuhnya berapa lama kan enggak tahu. Kalau dibutuhkan sewaktu-waktu, bagaimana?” katanya.

PERMASALAHAN TRANSPORTASI UMUM

- Jumlah armada angkutan umum konvensional kian menurun.

- Angkutan tidak tertib trayek sehingga banyak yang mengira tidak aktif.

- Headway dan waktu tempuh lambat karena kejar setoran.

- Halte pemberhentian jauh dari objek vital sehingga kurang efisien.

- Slot trayek yang mati tidak segera diisi pemkot.

- Pilihan transportasi massal masih minim.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore