JawaPos.com - Siapa sangka, mahasiswa dari salah satu universitas di Surabaya bernama Rei Albani mampu membudidayakan lobster air tawar dengan jenis Red Claw hanya di lahan yang sempit dan terbatas.
Budidaya Lobster Red Claw yang dilakukan oleh mahasiswa semester tujuh ini mampu dilakukannya dengan baik di lantai tiga sebuah kos-kosan di kawasan Dupak Baru, Surabaya.
Budidaya Lobster Red Claw yang dilakukan oleh Rei ini bermula dari tahun 2021, di mana dirinya tertarik untuk membudidayakan lobster melalui peluang usaha media sosial yang saat ini sedang menjamur.
Dilansir dari Radar Surabaya (Jawa Pos Group) pada Minggu (21/1), Rei memilih budidaya lobster di kos-kosan yang ia diami karena lahan yang terbatas, apalagi di area perkotaan.
"Ya inilah tantangannya, di lahan yang sempit bisa berinovasi menjadi lahan yang inovasi dan efektif sehingga lebih berproduktif," ungkapnya.
Budidaya lobster melalui pembibitan benih lobster yang dilakukan Rei akhirnya membuahkan hasil. Bahkan dirinya mengaku telah mengirimkan bibit lobster sampai ke Bali dan Jawa Barat.
"Saya fokusnya ke pembibitan kemudian dikirim kepada petani lobster, pangsa pasar banyak di Bali dan sekitaran Jawa Barat," kata Rei.
Lobster air tawar red claw atau dengan nama latin cherax quadricarinatus ini sudah dihasilkan Rei sekali panen bisa mencapai ribuan benih.
Rei juga mengaku bahwa pendapatannya sudah mencapai puluhan juta dari hasil budidaya lobster red claw tersebut.
"Harga satu set (4 jantan, 6 betina, Red) dengan ukuran 3 inci atau sekitar 8 centimeter Rp 150 ribu. Sedangkan yang agak besar dengan ukuran 5 inci atau 18 centimeter Rp 500 ribu," tuturnya.
Bahkan, dirinya mengaku bahwa dalam sekali panen setiap bulan menghasilkan seribu ekor dengan penghasilan bersih Rp 1 juta.
Di tempat budidaya lobster milik Rei ini ada sebanyak lima kolam dengan ukuran sedang hingga kecil untuk pembibitan.
"Kolamnya kita bedakan, untuk pembuahan sendiri, untuk yang anakan hingga untuk lobster yang sudah besar. Untuk makannya sangat mudah karena lobster merupakan omnivora (pemakan segalnya) jadi bisa diberi kacang ijo, taoge, wortel dan pelet," tuturnya.
"Adanya filterasi dalam ikan lobster membuat kualitas air membaik sehingga hasil yang didapat juga baik," imbuh Rei.
Saat ditemui, lobster miliknya sudah mulai mengeluarkan telur. Satu lobster kecil terlihat ada puluhan. Sekali menetas ada 100-600 ekor telur dalam satu indukan dengan ukuran 1 inci.
Pria berusia 21 tahun yang kuliah di jurusan menejemen bisnis ini selama membudidayakan lobster mengaku bahwa lebih banyak petani lobster yang memilih dan membeli benih daripada lobster yang sudah jadi untuk dikonsumsi.