
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Nanik Sukristina. Diskominfo Surabaya/Antara
JawaPos.com–Dinas Kesehatan Kota Surabaya menanggapi anggapan layanan kesehatan gratis dengan menunjukkan kartu tanda penduduk yang dikenal Universal Health Coverage atau Jaminan Kesehatan Semesta tidak maksimal.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Nanik Sukristina mengatakan, sebetulnya Universal Health Coverage (UHC) atau Jaminan Kesehatan Semesta (JKS) sudah berjalan. Namun ada sejumlah permasalahan di masyarakat terkait layanan gratis tersebut.
”Saya kira itu hanya karena miskomunikasi,” kata Nanik seperti dilansir dari Antara di Surabaya, Kamis (7/4).
Meski demikian, Nanik mengatakan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi lagi ke masyarakat, terkait dengan prosedur untuk mendapatkan layanan UHC. Menurut Nanik, program UHC berdampingan dengan kepesertaan BPJS Kesehatan. Jadi syarat untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis harus menjadi peserta BPJS Kesehatan.
”Masyarakat yang datang ke semua faskes (fasilitas kesehatan) kami layani, antara lain puskesmas dan rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS,” ujar Nanik.
Sedangkan bagi warga yang belum menjadi peserta BPJS, lanjut dia, akan didaftarkan saat itu juga lewat KTP yang ditunjukkan. Asalkan warga tersebut bersedia mendapat pelayanan kesehatan kelas 3.
”Tapi sebaiknya sebelum sakit, masyarakat mendaftar BPJS melalui kelurahan. Jadi jangan kemudian ketika sakit baru mendaftar. Ini untuk memudahkan proses layanan,” tutur Nanik.
Lebih lanjut, Nanik mengatakan, saat ini ada 43 rumah sakit ditambah beberapa klinik di Surabaya, yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Hanya saja, masih ada 17 rumah sakit yang belum bekerja sama. Sehingga, program UHC tidak bisa dilayani di rumah sakit tersebut kecuali dalam kondisi darurat.
”Nantinya pihak rumah sakit mengklaim ke rumah sakit yang bekerja sama,” terang Nanik.
Nanik mengatakan, sejak program UHC dikenalkan ke publik pada 1 April 2021, pihaknya melakukan sosialisasi ke rumah sakit terutama yang belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. ”Ada dua penyebab mengapa mereka belum bekerja sama yakni pertama, karena pemiliknya belum menyetujui. Kemudian karena rumah sakit tersebut belum memenuhi syarat kredensial BPJS sehingga belum bisa bekerja sama,” ujar Nanik.
Namun, lanjut Nanik, perlahan-lahan beberapa rumah sakit menunjukkan progres positif. ”Kami nanti dibantu Komisi C untuk penguatan dorongan terhadap kerja sama 17 rumah sakit tersebut,” ucap Nanik.
Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono sebelumnya menilai, Dinas Kesehatan Surabaya belum mampu meyakinkan rumah sakit untuk bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. ”Kami akan mengundang 17 rumah sakit tersebut agar mau menerima progam dari pemerintah,” ujar Baktiono.
Dia menegaskan, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan merupakan progam pemerintah pusat. Sehingga, seluruh rumah sakit negeri, swasta, TNI dan Polri wajib bekerja sama dalam program tersebut.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
